Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Selasa, 07/10/2008
BI Rate diprediksi kembali naik 25 bps
JAKARTA: Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini diperkirakan mengambil keputusan menaikkan bunga BI Rate 25 basis poin menyusul situasi ekonomi yang tidak stabil dan nilai tukar rupiah terus tertekan dolar Amerika Serikat.
Direktur Keuangan PT Bank Bukopin Tbk Tri Joko Prihantono memperkirakan bank sentral akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25%. Ini terjadi karena tuntutan bisnis dan situasi ekonomi saat ini masih memerlukan penyesuaian suku bunga.
Menurut dia, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta laju inflasi bulanan yang masih meningkat sepertinya menjadi alasan kuat bagi otoritas moneter untuk kembali menaikkan suku bunga acuan menjadi 9,5%
"Saya kira masih akan naik sekitar 0,25% dan itu cukup untuk membantu mengendalikan inflasi dan nilai tukar rupiah. Namun, pemerintah harus memastikan likuiditas perbankan akan kembali pulih dalam beberapa bulan ini," jelasnya.
Joko menambahkan janji pemerintah akan mempercepat realisasi APBN selama tiga bulan terakhir ini dipastikan akan kembali menggairahkan pasar likuiditas perbankan. Apabila terjadi kenaikan BI Rate sebesar 0,25% itu masih sesuai dengan proyeksi perbankan.
Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan memprediksi BI Rate akan kembali merangkak naik sekitar 0,25% menyusul pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah dan angka inflasi yang masih tinggi.
Namun, Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Abdul Salam mengharapkan BI Rate dapat dipertahankan pada posisi 9,25% agar pasar likuiditas perbankan dapat terjaga dan tidak semakin kering.
Menurut dia, apabila BI Rate dinaikkan itu dapat semakin menekan kondisi likuiditas di pasar dan akan mendorong kalangan perbankan untuk kembali menyesuaikan suku bunga pinjaman dan suku bunga depositonya.
"Jika BI Rate dinaikkan itu asumsinya pasar likuiditas semakin diketatkan dan dikhawatirkan akan terjadi lagi perebutan likuiditas di kalangan perbankan dengan menaikkan kembali suku bunga deposito tanpa kendali," jelasnya.
Dia memaparkan kondisi likuiditas saat ini masih kering dan diperlukan adanya kebijakan untuk membantu sektor moneter supaya menjamin ketersediaan likuiditas. Jadi, sambungnya, sebaiknya bank sentral mempertahankan BI Rate.
Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono mengatakan angka inflasi September 0,97% termasuk masih dalam batas kewajaran ketika bulan Ramadan dan menjelang Lebaran.
Semula, dia memprediksikan bahwa BI Rate perlu dinaikkan karena likuiditas sedang ketat. Namun, lanjutnya, karena perkembangan krisis finansial AS yang mencemaskan, suku bunga perlu turun agar dapat membantu memberi insentif pasar modal.
"Jadi, terjadi tarik menarik antara BI rate perlu naik, dan BI Rate perlu turun. Jadilah BI Rate mengalami stuck in the middle [terimpit di tengah]. Jadi saya rekomendasikan BI Rate tetap berada di level 9,25%," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.
Badan Pusat Statistik (BPS) melansir inflasi bulanan pada September sebesar 0,97%, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 0,51%. Adapun inflasi secara tahunan melonjak jadi 12,14%.
Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate 125 basis poin sejak Mei. BI mengerek bunga dengan alasan yang hampir sama yakni tekanan inflasi domestik masih kuat. (11/17)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- PORTFOLIO
Victoria perkuat jaringan kantor - CIMB Niaga incar pembiayaan mikro
- Pertumbuhan asuransi global tersendat
- Krakatau Steel finalisasi kredit US$200 juta
- Pemerintah panggil BUMN terkait transaksi derivatif