Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 08/10/2008

BRI terus kucurkan kredit valuta asing

JAKARTA: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk belum berencana mengerem laju kredit dalam valuta asing kendati likuiditas di pasar internasional makin terbatas akibat imbas krisis finansial yang menerpa Amerika Serikat.

Direktur Keuangan BRI Abdul Salam mengutarakan kredit valas yang dikucurkan perseroan sangat kecil yakni 5% dari total kredit, sehingga kebijakan bank sentral untuk membatasi kucuran kredit berdenominasi mata uang asing itu tidak perlu dilakukan perseroan.

"Kredit valas kan hanya diberikan pada sektor usaha tertentu yang benar-benar membutuhkan transaksi valas dalam kegiatan bisnisnya. Memang jumlahnya sangat terbatas seperti untuk ekspor dan transaksi lainnya," jelasnya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan kucuran kredit valas itu dilakukan dengan sangat hati-hati agar risiko kredit dapat dikendalikan. Untuk itu, katanya, fasilitas pembiayaan valas khususnya dolar AS diberikan hanya untuk sektor produktif.

Selama ini, sambungnya, permintaan kredit valas mayoritas datang dari sektor usaha yang transaksinya berbasis dolar AS seperti pengusaha di bidang komoditas pertambangan, sawit, dan batu bara.

Dia menambahkan kredit valas juga dimanfaatkan oleh sebagian kalangan usaha kecil dan menengah untuk kegiatan bisnisnya yang memerlukan valuta asing.

"Kucuran kredit sampai Juni 2008 sebesar Rp135,95 triliun, jadi pembiayaan untuk valas diperkirakan sekitar Rp6 triliun-Rp7 triliun. Angka itu sangat kecil dan bukan garapan utama perseroan," ujarnya.

Abdul Salam menilai beberapa sektor sangat sulit untuk diberikan kucuran pembiayaan khususnya untuk korporasi yang terkena dampak dari krisis energi seperti manufaktur.

Namun, katanya, secara umum kredit BRI masih tumbuh sesuai dengan target perseroan meski di tengah pasar likuiditas yang masih kering dan belum menunjukkan adanya stabilisasi.

Batasi kredit

Pekan lalu, bank sentral menegaskan kembali kebijakannya untuk memperketat kucuran kredit terutama pembiayaan berbentuk valas dengan tujuan untuk mengendalikan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Belum lama ini, Direktur Keuangan Bank CIMB Niaga Catherine Hadiman mengutarakan pihaknya terus menyalurkan pembiayaan berdenominasi dolar AS mengingat permintaan kredit di beberapa sektor bisnis berbasis valuta asing terus meningkat.

Menurut dia, kegiatan ekspor yang dilakukan perusahaan lokal ataupun perusahaan campuran masih potensial untuk mendapatkan kucuran pembiayaan valas seperti sektor perkebunan, pertambangan, kelapa sawit, dan industri pendukung seperti pelayaran.

"Komposisi kredit valas perseroan sekitar 20% dari total portofolio kredit perseroan. Pada posisi Juni 2008 kredit yang dikucurkan perseroan tumbuh sebesar 36% menjadi Rp 46,4 triliun," jelasnya.

Catherine menjelaskan sumber dana valas sebagian besar masih mengandalkan dana pihak ketiga terutama deposito yang berdenominasi valas sehingga permintaan kredit yang cukup tinggi masih dapat terpenuhi.

"Secara keseluruhan pembiayaan CIMB Niaga masih didominasi rupiah dengan rasio kredit macet di posisi Juni 2008 dapat ditekan menjadi 2,12 % dari tahun lalu sebesar 3,23%. Hal itu, mencerminkan pula kualitas kredit valas perseroan," katanya. (17)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PLN negosiasi pinjaman US$1,3 miliar
  • Apresiasi dolar AS tekan emas
  • BNI & Stanchart amankan pasokan dolar AS
  • PORTFOLIO
    DBS Indonesia masuk segmen ritel
  • Kredit masuki fase perlambatan
  • PORTOFOLIO
    BRI bantu 4 Puskesmas
  • PORTOFOLIO
    Legislator nilai BI lemah
  • Mandiri uji tuntas akuisisi asuransi
  • Klaim asuransi minyak dan gas turun