Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 08/10/2008
Mereka-reka pasar asuransi jiwa syariah
Mengapa terjadi perlambatan pemegang polis asuransi jiwa syariah? Padahal potensi pasarnya besar dan pemain yang berminat menggarap bisnis itu cukup banyak. Hingga 2007 tercatat dua perusahaan asuransi jiwa syariah dan 13 unit asuransi jiwa syariah.
Namun, mengapa bisnis ini malah surut? Meskipun dicurigai kesalahan data, tetapi tidak ada salahnya pelaku bisnis mulai mereka-reka seperti apa pasar asuransi jiwa syariah di negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia ini.
Membicarakan seretnya perkembangan bisnis asuransi jiwa syariah di Tanah Air menyeret ingatan saya dalam perbincangan di sebuah siang dengan Dirut PT Jamsostek (Persero) Hotbonar Sinaga.
Mantan ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI) itu setengah berkelakar mengatakan konsumen Indonesia termasuk kategori konsumen yang sangat logis. Dalam melakukan tindakan konsumsi, kebanyakan tidak terlalu mempertimbangkan unsur emosional. Hanya terpikirkan apakah saya untung atau tidak? Apakah ada kemudahan atau tidak?
Hotbonar memberi contoh sebuah pusat perbelanjaan yang tak pernah sepi dari pengunjung, tanpa peduli bahwa jaringan toko dari salah satu negara di Eropa itu menjadi pesaing berat pengusaha Indonesia.
Kondisi serupa terjadi di asuransi syariah. Walaupun memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, perkembangan bisnis itu sejauh ini belum menggembirakan. Hanya pebisnis yang mengenal pasar dan mampu menciptakan produk yang mempunyai nilai jual yang akan berhasil.
Jangan berharap hanya dengan menciptakan produk seadanya, copy dan paste dari produk konvensional serta layanan yang ala kadarnya akan membuat kaum muslim berduyun-duyun membeli produk itu.
Synovate, salah satu lembaga riset internasional, mencoba memetakan pasar asuransi jiwa syariah di Tanah Air dan potensinya. Mengutip catatan Badan Pusat Statistik pada 2006, Jawa menampung lebih dari 53% penduduk Indonesia.
Konsumen potensial
Pada 2007, penduduk Indonesia berusia 15-29 tahun berjumlah sekitar 66,3 juta. Tahun ini diperkirakan akan turun menjadi 66,2 juta dan akan kembali ke angka 66,3 juta pada 2010.
Meskipun pertumbuhan segmen tersebut terlihat lambat, kelompok umur tersebut merupakan pasar paling potensial untuk digarap.
Berdasarkan hasil pemetaan pasar asuransi yang dilakukan Synovate pada April di empat kota besar yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan menunjukkan 52% respondennya tidak berminat memiliki asuransi jiwa.
Dari total responden sebanyak 1026 orang itu, hanya 6% yang mempunyai asuransi jiwa individu di luar Jamsostek, asuransi dari perusahaan dan SIM. Terbanyak responden yang memiliki asuransi jiwa berasal dari Jakarta, sedangkan terendah Surabaya.
"Mungkin ada suatu penyebab yang membuat penetrasi di Surabaya rendah, apakah agen tidak aktif atau mentalitas dari konsumennya," tutur Robby Susatyo, Managing Director Synovate Indonesia dalam workshop yang digelar LOMA Society Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.
Sisanya, 16% responden berniat mempunyai asuransi jiwa terdiri dari 5% responden berminat pada produk asuransi konvensional dan 14% memilih akan mencoba produk asuransi jiwa syariah.
Ketika ditanyakan mengenai pengetahuannya soal asuransi jiwa syariah, 31% responden mengaku sudah tahu soal syariah.
Namun, jawaban 305 responden yang mengaku tahu soal definisi asuransi jiwa syariah ternyata beraneka ragam, misalnya, asuransi jiwa syariah sesuai dengan hukum Islam, menerapkan cara bagi hasil, asuransi untuk haji atau umrah, proteksi jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, tanpa bunga dan memiliki imbal hasil yang bagus.
Ketika ditanyakan lebih jauh apakah mereka berminat mengetahui lebih lanjut soal asuransi syariah, hanya 1% yang menyatakan sangat tertarik.
Selain itu, 61 responden yang memiliki asuransi jiwa juga ditanyai khusus apakah mereka ingin mengenal lebih jauh soal asuransi jiwa syariah? Sekitar 44% responden menyatakan tertarik dan 34% menyatakan tidak tertarik.
Responden yang mengetahui asuransi syariah dimintai pendapat apakah ingin mengenal lebih jauh asuransi syariah? Ternyata hanya 1% yang menyatakan sangat tertarik.
Lembaga riset itu menemukan 25% responden beralasan hal yang menghalangi mereka membeli produk itu karena tidak mengetahui mekanismenya,13% tidak mempunyai dana, 12% menerapkan pengetatan anggaran, 7% tidak tertarik, 6% tidak paham soal asuransi, dan sisanya lain-lain.
Alasan terbanyak yang menyatakan minat membeli produk itu adalah asuransi syariah sesuai dengan hukum Islam. Alasan lain yang mengemuka di antaranya keamanan lebih untuk dana investasinya, investasi di asuransi syariah halal, investasi yang aman, dan bagus untuk jangka panjang.
Seluruh responden kembali dimintai pendapat soal bagaimana asuransi jiwa syariah harus mengemas diri. 42% responden setuju asuransi syariah menggunakan nama berbau Islam dan 40% setuju agen asuransi jiwa syariah harus mengerti hukum Islam.
Jika anda salah satu pemain asuransi jiwa yang berniat atau tengah menggarap pasar syariah, sudah mampukan mereka-reka pasar yang akan anda bidik? (hanna.prabandari@bisnis.co.id)
Oleh Hanna Prabandari
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- PORTFOLIO
Victoria perkuat jaringan kantor - CIMB Niaga incar pembiayaan mikro
- Pertumbuhan asuransi global tersendat
- Krakatau Steel finalisasi kredit US$200 juta
- Pemerintah panggil BUMN terkait transaksi derivatif