Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 10/10/2008
Rupiah pimpin penguatan mata uang Asia
JAKARTA: Rupiah berada di baris depan penguatan nilai tukar mata uang negara-negara di Asia setelah sejumlah bank sentral global beramai-ramai memangkas suku bunga guna menenangkan investor di tengah krisis keuangan yang melanda dunia.
Rupiah menguat 0,7% menjadi Rp9.620 per dolar AS pada pukul 17.30 WIB. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp9.795 yang merupakan level terendah sejak Januari 2006.
Nilai tukar rupiah menguat setelah sempat menyentuh level terendah hampir dua tahun. Berbeda dengan bank sentral lain di beberapa negara, Bank Indonesia memilih menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 9,5% untuk mencegah rupiah turun lagi seiring dengan penutupan bursa saham pada hari kedua kemarin.
"Ada harapan baru setelah bank sentral memutuskan secara bersama-sama memangkas suku bunga, sedangkan Bank Indonesia lebih memilih menjaga kestabilan rupiah," kata Muhammad Fauzi Halim, pedagang valuta asing PT Bank Resona Perdania, seperti dikutip Bloomberg, kemarin.
Ryan Kiryanto, ekonom PT Bank Negara Indonesia, menilai usulan agar BUMN yang memiliki dolar AS di luar negeri dapat mengalihkannya ke dalam negeri cukup membantu nilai tukar rupiah.
"Seperti halnya supply dan demand dalam komoditas, mata uang juga seperti itu. Ada banyak dolar AS di dalam negeri memacu investor dan memungkinkan rupiah leluasa menguat," ujarnya.
Meski demikian, Ryan menilai rupiah secara fundamental masih terdepresiasi karena batas ambang psikologis pada kisaran Rp9.500 per dolar AS.
"Nilainya masih melemah secara mendasar, apa yang dilakukan pemerintah belum cukup mujarab untuk menolong rupiah. Oleh karena itu sekaranglah saat yang tepat untuk kembali memegang rupiah," katanya kepada Bisnis, kemarin.
Dia melanjutkan pasar belum terlalu likuid dalam pekan ini menyusul belum sepenuhnya pelaku pasar yang bertransaksi karena libur panjang dan ditambah penutupan bursa saham.
Intervensi BI
Selain rupiah, baht Thailand akhirnya juga menguat setelah melemah dalam enam hari berturut-turut. Peso Filipina bangkit setelah terjebak dalam nilai tukar yang lemah dalam hampir 17 bulan terakhir.
Baht menguat 0,3% menjadi 34,42 dan peso juga terapresiasi 0,4% menjadi 47,495 per dolar AS.
Bank Indonesia meyakini depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih dalam taraf aman dengan tingkat volatilitas 2%. Otoritas moneter itu siap mengamankan fluktuasi rupiah dan likuiditas yang ketat dengan dukungan dana operasi pasar terbuka sebesar Rp120 triliun dan cadangan devisa untuk 4,5 bulan.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda S. Goeltom mengatakan meskipun BI masih berada di pasar uang, pihaknya masih memiliki kemampuan untuk menjaga stabilitas.
Menurut dia, nilai tukar rupiah merupakan aspek penting yang harus dipantau dan diwaspadai pergerakannya karena pengaruhnya bisa melebar ke inflasi. "Nilai tukar rupiah secara year-to-date rata-rata baru terdepresiasi 2%, sementara mata uang lain rata-rata terdepresiasi hingga 4%," katanya pada Rabu. (11/23)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- PORTFOLIO
Victoria perkuat jaringan kantor - CIMB Niaga incar pembiayaan mikro
- Pertumbuhan asuransi global tersendat
- Krakatau Steel finalisasi kredit US$200 juta
- Pemerintah panggil BUMN terkait transaksi derivatif