Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 11/10/2008

'Bank aman dari sergapan depresiasi rupiah'

JAKARTA: Otoritas Bank Indonesia menegaskan masyarakat tidak perlu panik dengan kondisi perbankan yang dinilai cukup aman dari gonjang-ganjing fluktuasi nilai tukar rupiah yang terdepresiasi.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda S. Goeltom mengatakan eksposur bank terhadap valas masih dalam batas wajar, sehingga perbankan di Tanah Air dinilai cukup aman menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah.

Namun, dampak krisis makro lembaga keuangan di Amerika Serikat terhadap perbankan dalam negeri baru bisa dirasakan hingga akhir tahun.

"Kalau eksposur bank terhadap valas semua masih sesuai dengan aturan [Bank Indonesia]," ujarnya di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan eksposur perbankan terhadap valas pada saat ini berbeda jauh dengan posisi ketika krisis moneter pada 1997/1998. Pasalnya, bank sentral kini membatasi porsi penyaluran kredit terhadap valas.

"Seperti Anda ketahui ada aturan position [penempatan valas] dan kami tidak melihat bahwa kondisi ini seperti tahun 1997, yakni banyak eksposur yang tidak tercatat, tetapi yang ini [eksposur sekarang] kami mengetahui," paparnya.

Pada krisis moneter 1997/1998 portofolio kredit perbankan terhadap valas, khususnya dolar AS, mencapai 70%-80%. Di samping itu banyak eksposur bank yang tidak tercatat dan tidak sesuai dengan peruntukan dalam menyalurkan kredit.

Faktor tersebut yang menyebabkan perbankan di Tanah Air yang gulung tikar atau harus mendapatkan uluran bantuan likuiditas Bank Indonesia untuk mengatasi distorsi rupiah terhadap dolar yang kala itu sampai menembus Rp20.000 per dolar AS.

Berdasarkan data Bank Indonesia pada Juli porsi kredit valas senilai Rp245 triliun, angka itu naik tipis dari posisi Juni Rp241 triliun. Adapun porsi kredit berdenominasi rupiah pada Juli sekitar Rp949 triliun.

Miranda menyatakan dampak terhadap krisis perekonomian global memang sulit dihindari, tetapi sebagaimana mungkin dampak itu diminimalkan.

"Kami masih mengamati, kalau dari sisi dampak yang kami pentingkan tidak ingin pasar panik, masyarakat panik," paparnya.

Direktur Risk Management Bank Mandiri Sentot Sentausa menyatakan perbankan dalam negeri masih cukup aman menghadapi depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar karena eksposurnya dalam denominasi itu relatif kecil.

"Kami sudah melakukan stress test, rupiah mencapai Rp10.000 pun kami kira masih aman karena eksposur kami masih rendah. Untuk Mandiri saja hanya sekitar 25%," ujarnya.

Hindari valas

Industri perbankan pada semester II/2008 menghindari pemberian kredit berdenominasi valuta asing karena tingginya risiko pasar dan mahalnya penghimpunan dana. Sejumlah bank memutuskan tidak memberikan kredit sindikasi atau bilateral dalam denominasi tersebut.

Direktur Treasury dan Internasional BNI Bien Subiantoro mengatakan pada paruh terakhir semester ini perseroan lebih memilih penyaluran kredit berdenominasi rupiah, dan menahan pemberian kredit valas, kecuali untuk keperluan ekspor dan impor.

"Risiko pasar masih tinggi, mata uang valas harganya juga mahal, tidak kompetitif lagi apabila disalurkan untuk kebutuhan kredit di dalam negeri. Jadi, kami tahan dulu," ujarnya.

Dalam rencana bisnis bank 2008, BNI memerlukan pinjaman berdenominasi valas sebesar US$550 juta, awal tahun ini bank pelat merah itu telah mengantongi pinjaman bilateral dari Standard Chartered Bank US$150 juta. 

Senada dengan Bien, Dirut PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Sofyan Basir mengatakan pihaknya lebih memilih langkah aman dengan tidak mengucurkan kredit berdenominasi valas pada semester dua ini.

Dia mengutarakan kebutuhan valas BRI menjelang akhir tahun ini tidak terlalu besar. Menurut dia, kebutuhan mata uang asing untuk bank pelat merah itu terbesar untuk pelunasan obligasi sebesar US$100 juta dengan call option pada Oktober 2008.

Sebaliknya, Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Catherine Hadiman mengutarakan pihaknya terus menyalurkan pembiayaan berdenominasi dolar AS mengingat permintaan kredit di beberapa sektor bisnis berbasis valuta asing terus meningkat.

Berdasarkan data Bank Indonesia per Juli, kredit valas justru tumbuh negatif dari Juni sebesar Rp221 triliun menjadi Rp217,2 triliun, sedangkan dalam waktu yang sama kredit rupiah meningkat sebesar Rp21,95 triliun menjadi Rp949,3 triliun.

Minusnya kredit valas itu justru berbanding terbalik dengan realisasi pinjaman valas oleh perbankan dalam negeri bila dibandingkan dengan tahun lalu yang dianggap paling kondusif.

Hingga 8 September, perbankan Indonesia telah mencairkan pinjaman kebanyakan sindikasi, bilateral, dan siaga-US$959 juta, atau naik 1,5 kali dari realisasi September 2007 sebesar US$634 juta. Utang itu dieksekusi oleh delapan bank swasta US$779 juta dan sisanya US$180 juta oleh bank pemerintah. (11/Fahmi Achmad) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BI siapkan fasilitas pinjaman darurat
  • PORTOFOLIO
    RBS mantapkan peran di Indonesia
  • PORTOFOLIO
    Stanchart akuisisi Cazenove
  • BNI proyeksi kredit korporasi melemah