Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 10/05/2008
Petrocentral sulit bahan baku
JAKARTA: PT Petrocentral, produsen bahan baku deterjen sodium tripolyphosphate (STPP), sejak pertengahan 2007 hingga saat ini tidak berproduksi optimal akibat gangguan pasokan bahan baku berupa asam fosfat (P2O5/ bahan baku STPP).
Selama ini, kebutuhan bahan baku tersebut terutama dipasok oleh PT Petrokimia Gresik, BUMN yang bergerak di sektor petrokimia dan pupuk, yang juga induk usaha PT Petrocentral.
Berdasarkan surat Petrogres kepada Petrocentral yang ditandatangani Kepala Penjualan Wilayah I Petrogres Bambang Lesmoko pada 6 Juni 2007, terungkap bahwa penghentian itu disebabkan oleh Petrogres kekurangan asam fosfat untuk memproduksi pupuk.
Akibatnya, Petrocentral terpaksa mengimpor seluruh asam fosfat untuk menjaga kelangsungan produksi STPP.
"Pasokan 15.000 ton P2O5 [yang diminta Petrocentral] atau sekitar 53% dari stok asam fosfat Petrogres, tak bisa dipenuhi karena stok kami hanya cukup untuk memproduksi pupuk. Selain itu, hingga saat ini [pada waktu itu] kami belum memperoleh sumber impor, sehingga sementara ini kami belum dapat memenuhi permintaan Petrocentral," papar Bambang dalam surat itu.
Selama ini, Petrocentral membutuhkan asam fosfat sekitar 50.000 ton, yang terdiri atas pasokan dari Petrogres dan impor. Pasokan bahan baku dari Petrogres untuk Petrocentral menurun pada 2005 dan 2006 karena BUMN pupuk itu lebih memfokuskan produksi pupuk.
Pada 2005, Petrogres memasok asam fosfat kepada Petrocentral sebanyak 35.707 ton. Selain dari pasokan Petrogres, Petrocentral juga mengimpor bahan baku sebanyak 4.029 ton.
Pada 2006, Petrogres hanya memasok 7.717 ton asam fosfat kepada Petrocentral. Akibatnya, impor bahan baku Petrocentral meningkat drastis menjadi 25.593 ton pada 2006.
Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- AKSELERASI
Harga semen di Arab Saudi stabil - Industri farmasi mencari lisensi ke hulu
- Pemerintah akan suntik PAL modal kerja US$40 juta
- Permintaan baja di pasar domestik merosot
- AKSELERASI
Ekspor Srilanka turun 1,9%