Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 17/05/2008
Ekspor TPT ke AS terpangkas 30%
JAKARTA: Pelaku usaha industri tekstil dan produk tekstil (TPT) akan mengalihkan ekspor produk dari pasar Amerika Serikat (AS) ke Uni Eropa dan Jepang, menyusul resesi ekonomi AS yang dikhawatirkan memangkas ekspor TPT sebesar 30%.
Sejauh ini, AS menjadi negara tujuan ekspor utama produk TPT asal Indonesia dengan pangsa pasar 43% (US$4,3 miliar) terhadap total ekspor komoditas tersebut. Setelah AS, Uni Eropa dan Jepang dengan market share masing-masing sekitar 30% dan 7%.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menyatakan pelaku usaha saat ini segera membuka pasar-pasar ekspor ke luar AS. Terutama ke negara yang sudah ataupun belum memiliki kesepakatan kerja sama ekonomi. Hal ini dilakukan mengingat ekspor TPT ke AS diperkirakan terpangkas sekitar 30% akibat resesi.
"Dengan Jepang kita sudah memiliki EPA [economic partnership aggrement], jadi akan kita tingkatkan ekspor ke Jepang. Uni Eropa juga kita tingkatkan karena buying power masyarakatnya cukup kuat," katanya kepada Bisnis, kemarin.
Untuk Uni Eropa, katanya, pelaku usaha mengharapkan pemerintah segera mempercepat perluasan kerja sama bidang ekonomi dengan masyarakat UE khusus di sektor TPT.
Sejauh ini, pelaku usaha nasional masih dibebani pajak bea masuk sekitar 13% untuk ekspor TPT ke UE karena tidak adanya perjanjian kerja sama [free trade area/FTA].
"Bangladesh saja sudah menikmati bea masuk 0%, kita belum. Kita [pengusaha Indonesia] masih bayar bea masuk 13%, akibatnya produk kita tidak kurang kompetitif," katanya.
Menurut Ade, pelaku industri TPT di Tanah Air mengharapkan resesi yang berlangsung di AS dapat berakhir dalam enam bulan mendatang. Ekspor produk ke AS yang akan terpangkas 30%, tentunya menekan target ekspor TPT nasional pada tahun ini.
Pelaku usaha sektor TPT mengupayakan penurunan nilai ekspor tahun ini tidak drastis hingga menjadi minus, tetapi dipertahankan stagnan seperti realisasi ekspor 2007 yakni US$10,3 miliar.
Oleh Siti Munawaroh
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- AKSELERASI
Inalum pacu produksi aluminium - AKSELERASI
Penjualan baja Afsel naik 11% - Akumulasi kenaikan harga makanan bisa mencapai 40%
- Ekspansi manufaktur senilai US$3,7 miliar akan tertunda
- Mobil hybrid akan bebas bea masuk