Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 18/07/2008

Omzet elektronik semester I melonjak 16%

JAKARTA: Penjualan elektronik rumah tangga (home appliances) dipasar domestik sepanjang Januari-Juni meningkat 16%, dari 5,3 juta unit menjadi 6,3 juta unit dengan total omzet sekitar Rp8,8 triliun.

Nilai penjualan tersebut tumbuh 24,1% terhadap total omzet pada semester I/2007 yang hanya Rp7,1 triliun.

Kendati didorong faktor penguatan daya beli konsumen di luar Pulau Jawa, lonjakan pasar elektronik sepanjang enam bulan pertama ini disebabkan oleh adanya aksi spekulasi kalangan pedagang.

Mereka memborong produk elektronik rumah tangga seperti alat pendingin udara (air conditioner/AC), kulkas, dan mesin cuci sebelum pabrikan menaikkan harga jual pada April-Juni dengan besaran sekitar 5% - 10%.

Sekjen Electronic Marketers Club (EMC) Handojo Soetanto mengatakan para spekulan itu disinyalir bukan dari kalangan konsumen rumah tangga, melainkan dari para distributor, toko, dan agen yang melakukan stockpilling (sebagai stok di gudang) untuk mendapatkan keuntungan lebih besar.

Pada Februari, sejumlah pabrikan elektronik memang mulai berancang-ancang menaikkan harga untuk menyesuaikan lonjakan harga baja, plastik, dan komponen lain akibat lonjakan harga energi dan minyak mentah dunia yang pada akhir Juni sempat menembus US$170 per barel.

"Sepanjang semester I/2008, kenaikan harga produk elektronik dilakukan sebanyak dua kali," ujarnya, kemarin.

Sekitar 60% dari peningkatan omzet elektronik sepanjang Januari-Juni, katanya, berasal dari wilayah pemasaran di luar Jawa seperti Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

"Daya beli konsumen ini wilayah tersebut meningkat seiring dengan bergairahnya pasar komoditas perkebunan dan pertambangan," katanya.

Kendati permintaan produk elektronik naik signifikan, kalangan pabrikan masih mencemaskan kemungkinan terjadi penurunan daya beli pada semester II akibat inflasi yang tinggi.

"Terlebih harga bahan baku seperti baja dan plastik masih mahal," ujarnya.

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain