Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 19/07/2008

Lapindo: Tak ada istilah kotak hitam

JAKARTA: Manajemen Lapindo Brantas Inc mengklaim dalam dunia pengeboran tidak dikenal istilah kotak hitam (black box), sebagaimana yang dituntut sebagian kalangan agar pihak berwenang melakukan penyelidikan melalui kotak hitam tersebut terhadap pengeboran oleh Lapindo.

"Sebenarnya dalam dunia pengeboran tidak ada istilah black box. Tetapi yang benar adalah data pengeboran yang terekam di mud logging unit," tutur Vice President Relations Lapindo Brantas Inc Yuniwati Teryana dalam siaran persnya, pekan ini.

Mud logging unit merupakan perangkat dalam pengeboran yang a.l. berfungsi, melakukan pengamatan dan perekaman proses pengeboran. Selanjutnya, ujarnya, data proses pengeboran itu juga sudah banyak dipublikasikan dan disampaikan pada seminar ilmiah, sehingga telah menjadi domain publik.

Yuniwati mengklaim bahwa data pengeboran sumur eksplorasi Banjarpanji-1 itu justru menunjukkan tidak ada hubungan antara sumur ekplorasi Banjarpanji-1 dan semburan lumpur di Sidoarjo.

"Sejak awal penyidikan, semua data termasuk data mud logging unit yang juga merekam data tekanan pengeboran telah diserahkan kepada Kepolisian Daerah Jawa Timur.

Data tekanan pengeboran, paparnya, menunjukkan bahwa tekanan lubang sumur lebih rendah daripada kekuatan batuan atau dinding sumur yang artinya casing shoe yang merupakan bagian terlemah dari sumur bahkan tidak pecah.

Di samping itu, tambah Yuniwati, juga terdapat data lain yaitu hasil survei sonan log yang menunjukkan tidak adanya aliran di belakang dinding (casing) sumur.

Lebih dari dua tahun kasus semburan lumpur Lapindo tak kunjung selesai ditangani. Banyak kajian yang dilakukan berbagai pihak mengenai penyebab melubernya lumpur yang menggenangi sejumlah desa di Sidoarjo, Jatim, itu.

Bahkan, hasil penelitian Profesor Richard Davies dari Durham University Inggris yang bersama Michael Manga dari University of California, Amerika Serikat menyebutkan bahwa lumpur Sidoarjo bukan bencana alam, melainkan terpicu oleh pengeboran di sumur Banjarpanji-1. Namun, hal itu dibantah oleh Lapindo Brantas Inc.

Oleh Zufrizal
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Pasar semen mulai tertekan suku bunga kredit
  • Pemerintah bentuk induk perusahaan BUMN pupuk
  • Harga bahan baku obat asal China melonjak 50%
  • AKSELERASI
    Adidas tambah 200 gerai