Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 19/07/2008

Mobil hybrid akan bebas bea masuk

JAKARTA: Mobil hybrid akan dikenakan bea masuk (BM) 0%, seiring dengan implementasi liberalisasi pasar dalam kerangka Kerja Sama Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang (Economic Partnership Agreement/EPA).

Pengembangan mobil hybrid di dalam negeri dinilai sangat mendesak, mengingat kenaikan harga minyak mentah yang fluktuatif dan masalah kelestarian lingkungan.

Saat ini, impor BM mobil kategori completely built up (CBU) di atas 3.000 cc dari Jepang masih dikenakan BM 10%. Seiring dengan perjanjian kerja sama IJ-EPA, BM mobil di atas 3.000 cc akan dihapuskan secara bertahap hingga 2012.

Direktur Alat Transportasi dan Kedirgantaraan Departemen Perindustrian (Depperin) Syarif Hidayat mengatakan pemotongan BM hingga 0% secara bertahap menjadi insentif bagi agen tunggal pemegang merek (ATPM) merek Jepang, untuk memasukkan mobil hybrid ke pasar Indonesia.

Menurut Syarif, pemerintah belum menentukan jenis mobil hybrid yang akan dimasukkan ke dalam pos tarif yang disepakati IJ-EPA. Secara prinsip, insentif BM 0% akan diberikan dengan mengedepankan kepentingan industri otomotif nasional.

"Mobil hybrid ini bisa masuk melalui skema free trade agreement. Sudah jelas ada jadwal penurunan BM untuk mobil bermesin di atas 3.000 cc, dan nantinya mungkin hybrid akan dimasukkan dalam HS sesuai dengan kapasitas mesin yang dimilikinya," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Di luar skema kerja sama dengan Jepang, Depperin sedang mengkaji bentuk insentif ataupun upaya untuk mendorong berkembangnya kendaraan hemat energi dan ramah lingkungan.

"Kebijakan apa yang bisa kita keluarkan untuk pengembangan mobil bermesin kecil, menggunakan energi elternatif. Kami sedang mengkaji bentuk treatment-nya," kata Syarif.

Oleh Siti Munawaroh
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain