Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 21/07/2008
Ekspansi manufaktur senilai US$3,7 miliar akan tertunda
JAKARTA: Ekspansi sektor manufaktur senilai US$3,7 miliar terancam batal direalisasikan tahun ini akibat defisit pasokan listrik PLN.
Rencana ekspansi itu berasal dari industri petrokimia, baja, alas kaki, pertekstilan, kertas dan semen.
Penundaan tersebut disebabkan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyatakan tidak akan menjamin ketersediaan pasokan listrik bagi industri manufaktur yang akan melakukan ekspansi maupun investasi baru sampai akhir tahun ini.
Apabila ekspansi dipaksakan, katanya, defisit listrik semakin bertambah besar sehingga pemadaman bergilir akan terulang lagi.
Deputi Direktur Niaga Jawa-Bali PT PLN Achmad Taufiq Haji meminta seluruh kegiatan ekspansi dan investasi baru pada tahun ini agar ditahan sampai situasi krisis daya listrik pada tahun ini berakhir.
"Tidak adanya jaminan pasokan listrik untuk investasi baru ini hampir dipastikan akan menjadi instruksi resmi yang berlaku kepada seluruh sektor industri lahap listrik sebelum adanya penambahan pembangkit baru," kata Achmad kepada Bisnis, seusai Diskusi Penataan Pasok Listrik Jawa-Bali Pascapenerapan Peraturan Bersama Lima Menteri tentang Pengaturan Jam Kerja Industri, pekan lalu.
Dalam tataran operasional, lanjutnya, PLN tengah berupaya melaksanakan instruksi pergeseran hari kerja industri ke Sabtu - Minggu sampai defisit listrik benar-benar pulih yang ditandai dengan terealisasinya beberapa unit PLTU dalam crash program 10.000 megawatt (MW) pada Maret 2009.
Ketua Umum Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia (INAplas) Didie Soewondho mengatakan rencana ekspansi produsen polietilena dan polipropilena (industri antara/intermediate) diperkirakan mencapai US$700 juta sedangkan di industri hilir petrokimia-mencakup 20 perusahaan-sekitar US$800 juta.
"Akibat defisit pasokan listrik PLN, rencana investasi tersebut kemungkinan besar akan ditunda dulu," ujarnya, pekan lalu.
Ketergantungan
Menurut dia, industri ini memiliki ketergantungan yang besar terhadap pasokan listrik PLN sehingga defisit daya sekecil apa pun akan berpengaruh signifikan terhadap kelangsungan produksi.
Defisit listrik ini, katanya, secara langsung mengancam kelangsungan produksi 76 perusahaan petrokimia yang memiliki kapitalisasi sekitar US$7,4 miliar. Industri petrokimia merupakan salah satu sektor strategis yang membutuhkan daya listrik paling besar selain industri semen, kertas, tekstil, dan baja.
"Apabila tidak ada kecukupan pasokan listrik, total ekspansi US$1,5 miliar pada tahun ini hanya akan berada di atas kertas," kata Didie.
Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Harijanto mengatakan defisit pasokan listrik juga telah menyebabkan sejumlah investor sepatu asal China, Korea Selatan, dan Taiwan membatalkan rencana penanaman modal pada tahun ini yang nilainya diperkirakan tidak kurang dari US$700 juta.
"Padahal rencana investasi mereka sangat serius. Bahkan mereka akan membentuk sebuah klaster industri sepatu di Jawa Timur. Untuk sementara, kita bicara yang lain saja karena tidak ada listrik di sini," katanya kepada Bisnis, kemarin.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menambahkan kalangan investor terus mencemaskan krisis listrik di dalam negeri yang semakin menyulitkan ekspansi.
Menurut dia, sejumlah perusahaan di Jawa Timur saat ini masuk daftar tunggu PLN untuk permintaan daya listrik 450 megavolt ampere (MVA), baik untuk penyambungan baru maupun tambah daya. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)
Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- AKSELERASI
Semen Gresik buka ruang dialog - Industri elektronik lakukan efisiensi besar-besaran
- Pabrik Unilever terbesar di Asia mulai beroperasi
- Belanja mesin industri makanan diprediksi naik 20%
- 'Produsen salah kalkulasi kondisi pasar'
Impor bahan baku dan produk baja melambung 124,3%