Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Selasa, 19/08/2008
Harga bahan baku obat asal China melonjak 50%
JAKARTA: Harga bahan baku obat dari China melonjak secara akumulatif hingga 50% dari awal tahun sampai saat ini karena Pemerintah Negeri Tirai Bambu ini memperketat pengawasan di industri farmasi menyusul pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008.
Berdasarkan pantauan Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi, jauh sebelum perayaan Olimpiade Beijing digelar, Pemerintah China sudah sibuk memperketat pengawasan transportasi dan pengelolaan limbah di sektor manufaktur, di antaranya menimpa industri farmasi. Selain itu, Pemerintah Negeri Panda ini juga memangkas insentif pajak ekspor bahan baku obat dari 17% menjadi hanya 5%.
Pemangkasan insentif pajak ini secara otomatis semakin mendongkrak harga bahan baku obat ke pasar Indonesia. Seiring dengan terjadinya kenaikan harga minyak mentah yang ikut mendongkrak biaya pengiriman barang, lonjakan harga bahan baku tersebut semakin tak terkendali.
Menurut data GP Farmasi, selama ini Indonesia mengimpor 95% bahan baku obat yang berjumlah sekitar 250 jenis di antaranya berupa antibiotik, amoxicilyn, paracetamol, dan anelxicis senilai Rp6 triliun per tahun. Produsen dalam negeri hanya mampu menyediakan 5% dari total kebutuhan per tahun, padahal kebutuhan bahan baku obat nasional setiap tahun diprediksi tumbuh 5% - 10%.
Impor bahan baku obat asal China mencapai 75% dari total impor bahan baku obat Indonesia. Selebihnya dipasok dari India dan sejumlah negara di kawasan Uni Eropa.
Ketua Komite Bahan Baku GP Farmasi Vincent Harijanto menilai ketersendatan bahan baku obat dari China itu menyebabkan pabrikan farmasi domestik terpaksa hanya bisa menunggu pasokan bahan baku hingga Olimpiade Beijing berakhir. Akibatnya, industri farmasi nasional hanya mengolah obat dari stok bahan baku seadanya.
"Tersendatnya pasokan itu menyebabkan harga bahan baku obat dari China meningkat hingga rata-rata 50%, bahkan ada yang naik sampai 100%," ujarnya dalam konferensi pers pameran All In One 2008 di Jakarta, akhir pekan lalu. Pameran yang digelar pada 20-23 Agustus ini juga akan menampilkan produk percetakan dan pengemasan.
Harijanto menyatakan melonjaknya harga bahan baku dari China juga dipengaruhi pelemahan US$ terhadap mata uang China di pasar internasional, lonjakan harga minyak mentah, serta peningkatan ongkos buruh di Negeri Tirai Bambu itu.
"Sudah harganya mahal, bahan baku dari China mulai seret. Oleh sebab itu, industri farmasi lokal hanya mampu mengolah stok yang tersisa paling lama tiga bulan," ujarnya.
Harga naik
Atas kondisi ini, sambungnya, pabrikan farmasi lokal terpaksa ikut menaikkan harga jual obat terutama obat paten (branded) yang dipasarkan di dalam negeri. Vincent mengaku tidak bisa memerinci kisaran kenaikan harga obat di dalam negeri karena hal tersebut diserahkan kepada kebijakan tiap-tiap perusahaan.
"Penyesuaian itu terpaksa dilakukan," ucapnya.
Meski demikian, lanjutnya, harga jual obat generik tidak akan naik karena ditetapkan pemerintah. Menteri Kesehatan Faadillah Supari telah menetapkan harga jual obat generik untuk tahun ini tetap sama dengan tahun sebelumnya. "Jadi, konsumen bisa memilih obat generik yang harganya lebih terjangkau," paparnya.
Saat ini, di dalam negeri terdapat sedikitnya 200 pabrik farmasi dan 2.500 perusahaan distribusi farmasi. Pasar farmasi domestik pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp30 triliun. Indonesia merupakan pasar terbesar produk farmasi di Asean atau mencapai 50% dari total pasar farmasi di kawasan ini.
Dia mengungkapkan perwakilan GP Farmasi yang berkunjung ke China pada awal Agustus lalu menemukan gejala tersendatnya impor bahan baku obat dari negeri itu. Pemerintah setempat memperketat pengawasan limbah selama Olimpiade Beijing. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)
Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- AKSELERASI
Semen Gresik buka ruang dialog - Industri elektronik lakukan efisiensi besar-besaran
- Pabrik Unilever terbesar di Asia mulai beroperasi
- Belanja mesin industri makanan diprediksi naik 20%
- 'Produsen salah kalkulasi kondisi pasar'
Impor bahan baku dan produk baja melambung 124,3%