Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Selasa, 19/08/2008

Pasar semen mulai tertekan suku bunga kredit

JAKARTA: Permintaan semen mulai melemah seiring  dengan pudarnya minat berinvestasi di sektor properti pascakebijakan bank sentral menaikkan BI Rate menjadi 9% yang telah memicu kenaikan suku bunga kredit perumahan menjadi 12% - 13%.

Dampak kenaikan suku bunga acuan muali dirasakan sektor properti yang akhirnya menekan produsen semen sebagai salah satu bahan baku utama di sektor ini. Bisnis properti mulai melambat akibat pengusaha tidak berani mengeksekusi pembangunan gedung baru karena khawatir tidak terserap pasar.

Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono mengatakan selama ini pertumbuhan pasar semen dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni proyek-proyek infrastruktur pemerintah dan pembangunan properti.

Jika dilihat dari tren bulanan, lanjutnya, penjualan semen mulai melambat memasuki Juli. ASI mencatat, penjualan semen domestik pada Juli 2008 terpangkas 1,5% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni 3,465 juta ton.

Urip menilai, pada bulan lalu perhatian masyarakat terpecah ke tahun ajaran baru sekolah sehingga aktivitas pembangunan perumahan sedikit berkurang.

Terus melambat


Dia memperkirakan konsumsi semen akan terus melambat hingga akhir tahun sejalan dengan makin derasnya tekanan suku bunga bank.

"Namun, pertumbuhan pasar semen cukup terbantu oleh direalisasikannya proyek pembangunan beberapa apartemen bersubsidi oleh pemerintah [terutama di Pulau Jawa]," katanya pekan lalu.

Kendati menurun, ungkapnya, jika dibandingkan dengan Juli 2007, pasar semen bulan lalu masih tumbuh sebesar 10,7% dari 3,083 juta ton menjadi 3,414 juta ton. Pada bulan ini, dia memperkirakan permintaan semen akan sama dengan Juli, apalagi sejumlah produsen semen sudah berancang-ancang untuk kembali menaikkan harga jual.

Direktur Keuangan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya juga memprediksi pasar semen nasional akan melemah pada semester II/2008 menyusul naiknya tingkat suku bunga. Pertumbuhan sebesar 21% pada semester II akan menyusut menjadi hanya 13% pada akhir tahun.

Indocement, menurut dia, kemungkinan akan kembali menaikkan harga jual memasuki semester II/2008 seiring dengan terus membengkaknya biaya energi dan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit (power plant).

Sepanjang tahun ini, perusahannya telah menaikkan harga jual sebesar 8%. Jika dibandingkan dengan semester I/2008, harga semen bahkan telah melonjak 17% memasuki semester II ini.

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • RI berpeluang raup investasi China US$1,3 miliar
  • Utilisasi industri pulp & kertas hanya 54%
  • TRANSMISI
    Darya Varia naikkan penjualan 50%
  • Pasar alat berat 2009 diprediksi anjlok 40%