Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 20/08/2008

PIM & Petronas sepakati harga gas

JAKARTA: PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan Petronas Petroliam National Berhard (BUMN migas Malaysia) akhirnya menyepakati harga gas untuk bahan baku produksi urea bagi pabrik PIM-2 melalui mekanisme swap (peng-alihan).

Harga yang disepakati tersebut ditetapkan maksimal US$18 per juta Btu (British thermal unit) dengan patokan harga urea di pasar internasional sebesar US$780 - US$800 per ton.

Dalam perjanjian, Petronas memasok sebanyak enam kargo untuk jangka waktu dua tahun atau sampai pasokan gas dari Blok A yang digarap Medco Energy mengalir untuk dua pabrik PIM (PIM-1 dan PIM-2) pada kuartal IV/2010 sebanyak 110 juta kaki kubik per hari (MMscfd/million standard cubic feet per day).

Khusus pasokan gas dengan Medco telah dicapai kesepakatan menyusul pengambilalihan ladang gas Blok A di Langsa yang semula dikelola ConocoPhilips. Dengan perubahan pengelolaan ladang tersebut, Medco dapat memasok gas ke pabrik PIM-1 dan PIM-2.

Sesuai dengan keputusan pemerintah, sebelum pasokan dari Medco mengalir, pabrik urea tersebut tetap akan memperoleh gas dari Exxon yang diperoleh lewat mekanisme swap dari PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk sebanyak tiga kargo selama enam bulan.

"Harga itu sudah disepakati Petronas dengan mengacu pada patokan harga urea di pasar internasional terkini. Tujuan swap ini semata-mata untuk mengoptimalisasikan idle capacity pabrik PIM, hingga gas dari Blok A mulai mengalir pada kuartal IV/2010," kata Direktur Utama PT PIM Mashudianto, kemarin.

Proses perundingan yang berlangsung intensif selama beberapa bulan terakhir, ungkapnya, melibatkan sejumlah pihak seperti BP Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), utusan ExxonMobil Oil Indonesia, dan Pertamina sebagai operator teknis.

Di dalam perjanjian tersebut disebutkan bahwa Petronas berkomitmen mengalihkan pasokan LNG dari ExxonMobil ke unit urea PIM-2 sebanyak tiga kargo per tahun hingga 2010. "Untuk kerja sama ini, Petronas akan membayar processing fee kepada PIM. Saya tidak bisa men-disclose nilainya karena masih dalam pembahasan," katanya.

Dia menjelaskan dengan skala harga gas maksimal US$18 per juta Btu, nilai kontrak gas sebanyak enam kargo itu mencapai US$324 juta. "Biaya swap ini sepenuhnya ditanggung Petronas. Pada prinsipnya nanti akan ada profit sharing dengan PIM sebesar 50:50 [dari hasil penjualan urea]," katanya.

Fleksibel


Menurut dia, apabila harga gas pada tahun depan meningkat di atas US$18 per juta Btu, kesepakatan kontrak swap gas dengan Petronas tetap dilanjutkan apabila harga urea internasional juga ikut naik sesuai dengan perhitungan skala keekonomian.

"Kesepakatan ini fleksibel. Yang penting disesuaikan dengan kondisi harga gas dan harga urea di pasar internasional. Apabila [antara harga gas dan urea] tidak mencapai skala keekonomian maka terpaksa kontrak ini tidak bisa dilanjutkan," katanya.

PIM, lanjutnya, berharap kesepakatan harga tersebut segera ditindaklanjuti untuk menyelesaikan sejumlah persoalan teknis antara ExxonMobil dan Pertamina sebagai operator dan BP Migas sebagai supervisor, di antaranya soal kepastian waktu pasok dan pengaliran gas. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • RI berpeluang raup investasi China US$1,3 miliar
  • Utilisasi industri pulp & kertas hanya 54%
  • TRANSMISI
    Darya Varia naikkan penjualan 50%
  • Pasar alat berat 2009 diprediksi anjlok 40%