Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 21/08/2008

Permintaan baja di pasar domestik merosot

JAKARTA: Permintaan baja di dalam negeri sepanjang Januari-Juli tahun ini ditengarai merosot tajam karena harga baja semakin mahal seiring dengan lonjakan harga HRSFC (hot rolled steel flat carbon/kelompok baja lembaran).

Departemen Perindustrian bahkan memprediksi volume penurunan permintaan baja pada periode tersebut mencapai sekitar 500.000 ton - 1 juta ton. Apabila kalkulasi ini benar, penurunan pasar baja nasional ini merupakan yang terendah sepanjang lima tahun terakhir.   

Padahal dalam proyeksi pada awal tahun, kebutuhan baja nasional hingga akhir 2008 mencapai 7 juta ton atau meningkat sebanyak 500.000 ton - 1 juta ton dibandingkan dengan konsumsi pada tahun lalu sekitar 6 juta - 6,5 juta ton. Di sisi lain, volume produksi nasional diperkirakan tidak beranjak dari level 4 juta ton.

Rendahnya daya serap pasar membuat sejumlah produsen hilir seperti seng (galvanished iron sheet) menanggung kerugian sekitar Rp3 miliar per bulan mengingat pada saat yang sama harga bahan baku berupa cold rolled coils (CRC/baja canai dingin) semakin mahal.

Keadaan ini memaksa sedikitnya empat produsen baja hulu (upstream) dan antara (midstream) di dalam negeri memilih mengekspor hasil produksinya guna menjaga keseimbangan pasar dan stok produksi. Ekspor itu dilakukan untuk periode Agustus - Oktober.

Produsen baja yang mulai melakukan ekspor, yakni PT Krakatau Steel (KS), PT Essar Indonesia (midstream), PT Gunawan Dianjaya, dan PT Gunung Garuda.

Ketidakpastian


Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menjelaskan selain terjadi pelemahan pasar di dalam negeri akibat tingginya harga baja, keputusan ekspor itu ditempuh untuk menyiasati ketidakpastian eskalasi (penyesuaian) harga baru di sejumlah proyek pemerintah.

Apabila tidak ada keputusan eskalasi harga baru, produsen baja akan menanggung kerugian cukup besar, sebab kenaikan biaya produksi tak dapat tertutupi. "Tidak ada pilihan lain kecuali ekspor. Ini merupakan strategi bisnis mereka dalam merespons pasar," kata Ansari ketika dikonfirmasi Bisnis, kemarin.

Menurut dia, penyerapan produk baja di sejumlah proyek pemerintah, seperti PLTU 10.000 megawatt (MW), tabung gas ukuran 3 kg dalam rangka konversi energi, pembangunan galangan kapal, hingga infrastruktur, sangat signifikan untuk meningkatkan uti-lisasi pabrik.

"Pelemahan pasar memang terjadi karena harga [di dalam negeri] terlalu tinggi. Konsumen saat ini menunggu harga baja turun," katanya.

Direktur Pemasaran PT KS Irvan Kamal Hakim menjelaskan ekspor yang dilakukan keempat produsen baja untuk pengiriman Agustus - Oktober dilakukan untuk menjaga agar tingkat produktivitas pabrikan tetap sesuai dengan skala keekonomian sehingga biaya produksi per satuan barang tetap ter-kendali dengan margin yang memadai.

"Kami harus mengantisipasi apabila banyak barang [tersimpan di gudang/warehouse] orang merasa harga baja akan turun, padahal justru tidak. Makanya, dalam periode itu kami kirim keluar [ekspor]," kata Irvan dalam diskusi Tren Pasar Baja Dunia 2008 - 2009, kemarin.

Pada periode tersebut, lanjut Irvan, KS akan meningkatkan ekspor baja dua kali lipat, yakni dari sebelumnya 10% menjadi 20% dari total produksi.

Sementara itu, Essar mendongkrak ekspor ke Timur Tengah, Afrika, dan Asia dari 20% menjadi 40% dari total produksi 400.000 ton per tahun. Ekspor baja Gunung Garuda juga naik dari 40% menjadi 50%.

Diperkirakan, total volume ekspor baja sepanjang Agustus - Oktober dari keempat produsen itu hampir mencapai 1 juta ton atau senilai US$1,5 miliar dengan patokan harga ekspor mencapai US$1.500 per ton untuk HRC.

Namun, pada awal November, katanya, ekspor baja akan dihentikan untuk kembali mengisi pasar domestik. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • RI berpeluang raup investasi China US$1,3 miliar
  • Utilisasi industri pulp & kertas hanya 54%
  • TRANSMISI
    Darya Varia naikkan penjualan 50%
  • Pasar alat berat 2009 diprediksi anjlok 40%