Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Selasa, 26/08/2008

Riset nanoteknologi butuh dana Rp4 triliun

BANDUNG: Indonesia membutuhkan dana sedikitnya Rp4 triliun dalam 10 tahun mendatang untuk memacu pengembangan riset nanoteknologi guna memperbaiki struktur daya saing produk manufaktur nasional di kancah global.

Kegagalan dalam  mengembangkan produk berbasis nanoteknologi pada lima tahun ke depan, berpotensi menyebabkan pasar domestik hanya menjadi pasar bagi produk nanoteknologi impor sehingga Indonesia diperkirakan kehilangan nilai tambah sekitar Rp10 triliun per tahun.

Ketua Umum Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI) Nurul Taufiqu Rochman  menjelaskan dana Rp4 triliun itu dibutuhkan antara lain untuk pembangunan pusat riset bersama dan pengembangan fasilitas nanoteknologi dan pembuatan grand strategy.

Nanoteknologi adalah suatu teknik perekayasaan partikel dari ukuran besar menjadi skala nanometer atau sepersemiliar meter.

"Dengan nanoteknologi, material dapat didesain dan disusun dalam orde atom per atom dan molekul per molekul sehingga akan tercipta bahan yang lebih efektif, efisien, dan berdaya guna," ujar Nurul seusai workshop penyusunan roadmap pengembangan teknologi berbasis nanoteknologi, kemarin.

Berdasarkan hasil riset National Nanotechnology Initiative USA, pasar produk manufaktur berbasis teknologi itu secara global melonjak tujuh kali lipat dengan total omzet pada 2015 mencapai US$1,5 triliun.

Produk manufaktur hasil dari nanoteknologi dapat dijumpai pada sektor elektronik, kedokteran, farmasi, konstruksi, industri makanan, nanotekstil, nanokeramik, nanofilm, hingga nanofarmasi.

Pada 2008, National Science Foundation US memprediksi nilai pasar di masa depan untuk nanomaterial (nanoteknologi berbasis sumber daya alam) bisa mencapai US$340 miliar per tahun, elektronik dan peranti US$300 miliar, farmasi US$180 miliar, proses kimia US$100 miliar, kedirgantaraan US$70 miliar, dan mesin peralatan US$22 miliar.

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • RI berpeluang raup investasi China US$1,3 miliar
  • Utilisasi industri pulp & kertas hanya 54%
  • TRANSMISI
    Darya Varia naikkan penjualan 50%
  • Pasar alat berat 2009 diprediksi anjlok 40%