Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 27/08/2008
Ispat Indo kaji investasi pabrik baja hulu US$600 juta
JAKARTA: PT Ispat Indo---perusahaan baja milik Lakshmi Mittal di Sidoarjo Jawa Timur----diam-diam melakukan studi kelayakan pembangunan pabrik baja hulu (upstream) dengan perkiraan investasi US$600 juta.
Perseroan saat ini mencari lahan yang dianggap memenuhi kriteria dari sisi keekonomian sebagai tempat untuk membangun pabrik baru. Sejumlah lahan kosong di Lampung dan Banten mulai diinventarisasi untuk dievaluasi.
Lokasi di kedua provinsi tersebut dinilai cukup strategis dari sisi pemasaran. Terlebih lagi, Pemprov Lampung dan Banten berencana membangun pelabuhan internasional yang akan memudahkan aktivitas ekspor-impor.
Mr. Banka, Presdir Ispat Indo tidak membantah saat dikonfirmasi soal rencana investasi dan penjajakan lahan di kedua lokasi tersebut. Saat ini Ispat Indo masih mematangkan rencana proyek tersebut dan mematangkan skala keekonomiannya.
Apabila kajian produksi dan komersial sesuai dengan skala keekonomian, lanjut Mr. Banka, Ispat Indo segera merealisasikan investasi tersebut.
"Kami belum bisa mengungkapkan secara pasti apakah investasi ini akan lebih diarahkan ke sektor baja hulu, antara [midstream], ataukah hilir [downstream]. Apabila kesempatannya besar, kami akan masuk ke hulu. Sebaliknya, apabila peluangnya kecil, kami akan berinvestasi dalam skala kecil," katanya, kemarin.
Seorang pejabat di pemerintahan yang mengetahui rencana itu mengungkapkan Ispat Indo hampir dipastikan merealisasikan pembangunan pabrik baja hulu yang terintegrasi hingga ke sektor baja antara, dengan tambahan investasi untuk beberapa pembangkit listrik (power plant). "Kalau Ispat Indo sudah merencanakan investasi, itu berarti sudah disetujui ArcelorMittal karena Ispat adalah perusahaan afiliasi mereka," kata pejabat itu.
Menurut dia, untuk memenuhi sesuai dengan skala keekonomian, pembangunan pabrik baru Ispat Indo setidaknya harus memiliki kapasitas produksi 1 juta ton per tahun. Pabrik baja hulu berkapasitas sebesar itu paling tidak membutuhkan pembangkit listrik 200 megawatt (MW).
Sejumlah petinggi Ispat Indo, lanjutnya, segera membicarakan rencana investasi tersebut dengan Departemen Perindustrian dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Namun, dia tidak mengetahui apakah ambisi Ispat Indo itu terkait dengan kegagalan ArcelorMittal menjadi mitra strategis PT Krakatau Steel (KS).
Dana investasi
Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menambahkan investasi pabrik baja di sektor hulu membutuhkan pembiayaan yang lebih besar dibandingkan dengan di sektor yang lebih hilir.
Apabila pembangunan pabrik disertai pembangkit listrik, investasinya bisa meningkat 20%-30%. "Investasi di sektor baja hulu diperkirakan bisa mencapai US$400 juta. Kalau ada tambahan pembangkit berkapasitas sekitar 200 MW, perlu tambahan dana sekitar US$200 juta, sehingga totalnya bisa sampai US$600 juta," katanya, kemarin.
Ansari juga meyakini investasi Ispat Indo akan diarahkan pada pembangunan pabrik baja integral dari hulu ke antara. Ispat, katanya, dipastikan akan memperkuat bisnisnya di pasar produk pelat baja (flat product) karena produksi nasional untuk kelompok ini masih rendah, sementara untuk sektor long product sudah cukup seimbang.
Saat dikonfirmasi mengenai total dana investasi dan sistem produksi dari rencana pabrik itu, Mr. Banka tetap enggan menyebutkannya mengingat seluruh proses investasi itu masih dalam studi. "Ini kan proyek untuk beberapa tahun ke depan sehingga masih terus dikaji skala keekonomiannya," tegasnya. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)
Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- AKSELERASI
Semen Gresik buka ruang dialog - Industri elektronik lakukan efisiensi besar-besaran
- Pabrik Unilever terbesar di Asia mulai beroperasi
- Belanja mesin industri makanan diprediksi naik 20%
- 'Produsen salah kalkulasi kondisi pasar'
Impor bahan baku dan produk baja melambung 124,3%