Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 27/08/2008
Anggaran restrukturisasi tekstil & gula akan digabung
JAKARTA: Realisasi investasi di industri pertekstilan nasional pada tahun depan kemungkinan terpangkas hingga Rp1,12 triliun atau 50% dari total realisasi pada tahun ini yang mencapai Rp2,24 triliun.
Kemungkinan tersebut muncul seiring dengan rencana pemerintah yang akan menyinergikan anggaran restrukturisasi industri pertekstilan (tekstil dan produk tekstil/TPT) dengan program revitalisasi industri pergulaan nasional.
Seperti diketahui sejak April 2007 Pemerintah memberikan subsidi bunga pembelian mesin dalam program restrukturisasi industri pertekstilan.
Pada saat yang sama, pemerintah juga tengah merevitalisasi industri pergulaan nasional.
Kedua program tersebut, untuk selanjutnya akan disinergikan dalam hal penganggarannya mulai tahun depan.
Apabila sinergi tersebut dilakukan, diperkirakan dana restrukturisasi pertekstilan nasional pada 2009 yang semula dianggarakan sebesar Rp360 miliar bakal terpangkas menjadi hanya Rp200 miliar, mengingat sekitar Rp160 miliar sisanya dialokasikan untuk merestrukturisasi 52 pabrik gula.
Sinkronisasi anggaran tersebut terpaksa dilakukan karena pagu anggaran Depperin untuk merestrukturisasi industri pertekstilan nasional dinilai Departemen Keuangan terlalu besar.
Pemotongan anggaran yang sangat signifikan tersebut berpotensi mengancam keberlanjutan program restrukturisasi pertekstilan yang sudah berlangsung dari 2007, mengingat masih terdapat ribuan unit mesin-mesin pertekstilan berusia tua yang harus dimodernisasi.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno menilai sinergi anggaran yang disusun dalam rencana kerja pemerintah (RKP) 2009 yang di dalamnya menggabungkan dana restrukturisasi sektor pertekstilan dan sektor pergulaan akan kontraproduktif terhadap upaya meningkatkan kinerja industri pertekstilan nasional.
RKP ini telah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekitar Juli 2008.
"Selama ini sektor pertekstilan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, bahkan kontribusi ekspornya melampaui sektor migas. Penggabungan anggaran ini sangat tidak logis," kata Benny baru-baru ini.
Menurut dia, kontribusi industri pergulaan terhadap perekonomian nasional tidak cukup signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB). Selain itu, penyerapan tenaga kerja di sektor perkebunan tebu juga jauh lebih kecil dibandingkan dengan industri pertekstilan.
Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- AKSELERASI
Semen Gresik buka ruang dialog - Industri elektronik lakukan efisiensi besar-besaran
- Pabrik Unilever terbesar di Asia mulai beroperasi
- Belanja mesin industri makanan diprediksi naik 20%
- 'Produsen salah kalkulasi kondisi pasar'
Impor bahan baku dan produk baja melambung 124,3%