Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 28/08/2008

RI kehilangan potensi investasi sektor barang modal US$1 miliar

JAKARTA: Indonesia diperkirakan kehilangan potensi investasi di sektor permesinan dan kelompok barang modal sekitar US$1 miliar per tahun, karena pemerintah tidak memiliki arah kebijakan yang jelas untuk mengembangkan industri ini.

Sepanjang delapan tahun terakhir, Indonesia hanya dijadikan sebagai pasar produk-produk permesinan dan barang modal dari perusahaan global. Akibatnya, nilai impor terus melonjak hingga 80% sepanjang delapan tahun terakhir, sementara pertumbuhan ekspor dalam enam tahun terakhir hanya sekitar 8,32%.

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengerjaan Mesin dan Logam Indonesia Ahmad Safiun mengatakan sepanjang delapan tahun terakhir sejumlah investor asal China, Jerman, Italia, Jepang, hingga Singapura berniat membangun pabrik permesinan untuk lebih mendekatkan diri dengan pasarnya.

Kebijakan pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang sehat masih timpang, sehingga seringkali investor membatalkan niat menanamkan modal dan memilih menjadi importir dengan mendirikan perusahaan afiliasi di Indonesia. Padahal, nilai investasi setiap perusahaan PMA di sektor barang modal bisa mencapai US$200 juta-US$300 juta.

"Bagaimana mau berinvestasi kalau pasokan daya listrik saja tidak ada padahal industri mesin membutuhkan infrastruktur yang lengkap. Pemerintah tidak mampu memenuhi sarana yang dibutuhkan tersebut sehingga jangan mimpi mereka berinvestasi di sini," kata Safiun seusai pembukaan pameran The 3rd International Metal Working Technology & Machine Tools, di Jakarta International Expo, kemarin.

Selain itu, lanjutnya, kalangan perbankan masih enggan mengucurkan kredit investasi ke sektor barang modal, terlebih tingkat suku bunga bank di dalam negeri juga tergolong sangat tinggi dan tidak kompetitif.

"Pemerintah cenderung menjadikan instrumen BI Rate sebagai alat mengendalikan inflasi namun mengabaikan kepentingan sektor riil. Jelas saja investor tidak akan berani masuk. Butuh waktu jangka panjang agar mereka mau menanamkan investasi di Indonesia," katanya.

Menurut dia, industri permesinan menghasilkan barang modal yang berperan sangat vital bagi kelangsungan proses produksi di sejumlah sektor manufaktur strategis seperti pertekstilan, baja, semen, migas, pergulaan, dan petrokimia.

Melonjak 100%


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2007 ekspor barang modal nasional hanya tercatat US$3,56 miliar, sedangkan impor produk permesinan dan komponen mencapai US$8,1miliar atau melonjak hampir 100% dibandingkan dengan 2001 yang sekitar US$4,3 miliar. "Keadaan ini harus segera dikoreksi dan dievaluasi," katanya.

Dia menambahkan faktor lain yang membuat investor enggan menanamkan modal adalah adanya ketimpangan dalam penetapan struktur perpajakan. "Pemerintah saat ini menghapus tarif bea masuk impor untuk barang modal sehingga memicu derasnya impor barang modal."

Dengan adanya struktur pajak yang timpang, mesin yang diproduksi oleh industri di dalam negeri menjadi lebih mahal dibandingkan dengan impor. Apalagi, sebagian besar subsektor industri barang modal tidak mendapatkan insentif perpajakan dalam revisi PP No. 1/2007 tentang Pemberian Fasilitas PPh 30%.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menambahkan upaya menyetop izin impor sejumlah barang modal bekas pada 2009 menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri permesinan di dalam negeri.

"Sebagian izin impor mesin memang masih akan diperpanjang 2009. Namun, pemerintah akan selektif untuk memberikan izin. Barang yang sudah diproduksi di sini tidak boleh lagi diimpor," kata Ansari. (Nana Oktavia Musliana) (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Pembatalan kenaikan BM baja picu polemik
  • Nissan tambah pengurangan produksi di Jepang
  • Indo Traktor &YTO garap pasar alat berat
  • Medco naikkan belanja modal 2009