Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 29/08/2008

Impor baja nasional semester I naik 30%

JAKARTA: Sepanjang Januari-Juni 2008, impor baja nasional melonjak sekitar 30% dari 4,54 juta ton pada periode sama tahun lalu menjadi 5,88 juta ton dengan total nilai US$4,33 miliar.

Volume produksi baja domestik yang hanya sekitar 2 juta ton-stagnan dibandingkan dengan periode sama tahun lalu-pada akhirnya menciptakan jurang kesenjangan yang semakin lebar terhadap konsumsi sehingga memicu impor besar-besaran.

Lonjakan impor baja tersebut mengonfirmasikan prediksi yang pernah ditulis Bisnis pada Mei yang pada saat itu diprediksikan impor baja pada semester I akan melonjak 30% seiring dengan lonjakan konsumsi dari 6 juta ton pada 2007 menjadi hingga 7,5 juta ton pada tahun ini. Konsumsi baja itu terdongkrak oleh peningkatan kebutuhan sektor otomotif, elektronik, konstruksi, dan galangan kapal.

Ironisnya, di tengah keterbatasan produksi baja nasional, beberapa perusahaan hulu (baja lembaran) seperti PT Krakatau Steel, Gunung Garuda Group, dan PT Essar Indonesia justru meningkatkan volume ekspor hingga dua kali lipat pada September-November.

Para produsen beralasan peningkatan ekspor dimaksudkan untuk menjamin keseimbangan pasar di dalam negeri agar tidak terjadi kelebihan pasokan (over supply) di dalam negeri.

"Pada periode itu, pasar baja di dalam negeri   melambat memasuki bulan puasa dan Lebaran," kata Direktur Pemasaran PT KS Irvan Kamal Hakim, beberapa waktu lalu.

Oportunis


Menyikapi langkah produsen tersebut, Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bambang Soesatyo berpendapat produsen baja memanfaatkan momentum kenaikan harga baja dunia  sehingga mengambil langkah oportunis dengan memacu ekspor.

Ketika harga baja masih di kisaran US$700 per ton pada Januari 2008, KS pernah berencana memangkas ekspor sekitar 5%-7% menjadi 13%-15% pada tahun ini untuk mempertahankan konsumen yang loyal di dalam negeri dan menghindari kenaikan ongkos angkut yang melonjak menjadi US$65 per ton.

Pada kuartal III/2008, kata Bambang, pasar baja dunia semakin tumbuh dengan baik sehingga harga baja akan terus meningkat "Lonjakan harga baja yang terjadi saat ini tentu sangat menggiurkan mereka [produsen]," katanya, kemarin.

Dengan demikian, adanya peningkatan ekspor di tengah kesenjangan yang kian lebar antara produksi dan konsumsi di industri baja nasional justru membuktikan bahwa pasar baja di dalam negeri mengalami anomali yang sangat kompleks.

"Apa pun kondisinya, seharusnya konsumsi baja di dalam negeri harus terlebih dahulu dipenuhi oleh produsen lokal sehingga kesenjangan bisa direduksi," katanya.

Terjadinya defisit pasokan baja di dalam negeri, ujarnya, mencerminkan pengembangan industri baja selama lebih dari 30 tahun belum terarah sehingga produsen terlambat merencanakan peningkatan kapasitas terpasang. "Akibatnya, produsen baja nasional tidak siap menghadapi lonjakan konsumsi."

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari memperkirakan peningkatan impor baja akan terus berlanjut seiring dengan penurunan harga minyak mentah dunia yang saat ini diperdagangkan sekitar US$115 per barel.

Penurunan harga minyak itu, menyebabkan harga baja internasional terkoreksi sehingga importir mulai melakukan aksi spekulasi. (yusuf. waluyo@bisnis.co.id)

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • RI berpeluang raup investasi China US$1,3 miliar
  • Utilisasi industri pulp & kertas hanya 54%
  • TRANSMISI
    Darya Varia naikkan penjualan 50%
  • Pasar alat berat 2009 diprediksi anjlok 40%