Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 05/09/2008

Harga bahan baku plastik mulai turun

JAKARTA: Setelah sempat bertahan di level tertinggi sekitar empat bulan, harga bahan baku plastik berupa polietilena (PE) dan polipropilena (PP) pada pekan pertama September ini mulai merosot dari US$2.000 per ton menjadi US$1.600-US$1.650 per ton.

Penurunan harga bahan baku plastik itu terjadi seiring dengan kemerosotan harga minyak mentah dunia. Penurunan harga minyak mentah ke level US$109,73 per barel di pasar Asia (Bloomberg, 4 September) telah menyebabkan harga PP dan PE merosot hingga 40%.

Sekjen Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia (INAplas) Budi Soesanto Sadiman menjelaskan transaksi di pasar domestik akan mulai menggunakan skala harga baru itu pada awal pekan depan.

"Penurunan harga bahan baku plastik biasanya disebabkan penurunan harga minyak bumi. Penurunan itu memicu tingginya arus impor bahan plastik dan produk plastik yang bisa menyebabkan pasar kita kelebihan pasokan [over supply]," kata Budi, kemarin.

Kelebihan pasokan di dalam negeri juga turut berkontribusi terhadap penurunan harga plastik dan barang dari plastik dalam beberapa pekan ke depan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor plastik dan barang dari plastik sepanjang tujuh bulan pertama melonjak hampir mencapai 100% dari sekitar US$1,2 miliar menjadi US$2,34 miliar.

INAplas, kata dia, mensinyalir impor produk plastik itu berasal dari Singapura, Malaysia, Thailand, dan Timur Tengah. Impor tersebut dilakukan untuk menimbun stok menjelang Lebaran yang biasanya diserap oleh sektor makanan minuman, kemasan, otomotif, dan konsumen umum.

Tingginya impor plastik dan barang dari plastik pada periode itu, lanjutnya, disebabkan perusahaan petrokimia nasional belum mampu memenuhi lonjakan konsumsi sekitar 7% - 10% pada 2008.

Kondisi itu dipicu tidak adanya tambahan investasi baru dan berlarutnya krisis daya listrik pada Mei.

"Adanya krisis listrik yang menyebabkan pemadaman 10 hari membuat produksi menurun. Saat terjadi krisis listrik, pasokan PE dan PP tersendat karena PT Tripolita setop produksi, padahal permintaan sedang tinggi-tingginya," katanya.

Pangkas margin


Penurunan harga bahan plastik di dalam negeri, lanjut Budi, juga menyebabkan produsen etilena dan propilena (hulu/upstream) terpaksa memangkas margin karena harga di sektor antara (midstream) berupa PP dan PE telah merosot hingga US$400 per ton.

Penyempitan margin keuntungan ini, menurut Budi, karena industri hulu petrokimia belum mampu menekan biaya produksi etilena dan propilena kendati harga minyak mentah telah merosot tajam.

Keadaan tersebut dipicu harga nafta (bahan baku etilena dan propilena) diprediksi masih tinggi.

Akibatnya, terjadi pemangkasan margin sekitar US$200-US$400 per ton di hulu karena harga jual etilena dan propilena masih diperdagangkan di kisaran US$1.400 per ton.

"Selain itu, importir umum juga mengalami hal tersulit akibat jatuhnya harga minyak yang tidak mereka sangka sebelumnya," katanya.

Di saat harga minyak bergejolak di sekitar April, lanjutnya, importir umum berspekulasi memborong komoditas tersebut dari pasar internasional untuk disimpan sebagai stok saat konsumsi melonjak menjelang Lebaran dan spekulasi berlarutnya lonjakan harga minyak.

Kalangan spekulan-para importir produsen dan importir umum-memprediksi harga minyak pada kuartal III/2008  terus meroket.

"Namun, keadaannya justru sebaliknya sehingga mereka merugi cukup besar atau mencapai ratusan juta US$," katanya. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • RI berpeluang raup investasi China US$1,3 miliar
  • Utilisasi industri pulp & kertas hanya 54%
  • TRANSMISI
    Darya Varia naikkan penjualan 50%
  • Pasar alat berat 2009 diprediksi anjlok 40%