Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 06/09/2008

Kapasitas produksi digenjot
Pasar mesin perkakas melonjak 50%

JAKARTA: Permintaan pasar mesin perkakas diperkirakan melonjak 50% pada tahun ini sehingga industri mesin perkakas nasional berbondong-bondong menggenjot kapasitas produksi hingga pertengahan 2009, seiring dengan tingginya permintaan dari dalam negeri.

Ketua Asosiasi Industri Mesin Perkakas Indonesia (Asimpi) Dasep Ahmadi mengatakan dari 2007 permintaan mesin perkakas mulai meningkat. Pada tahun lalu, nilai permintaan mesin perkakas mencapai Rp500 miliar-Rp600 miliar. "Pada tahun ini, kami perkirakan bisa mencapai Rp900 miliar," katanya, kemarin.

Tingginya permintaan mesin perkakas ini, karena meningkatnya konsumsi di berbagai sektor industri seperti otomotif, dan pembangunan infrastruktur.

"Industri perkakas adalah sektor penopang yang diperlukan berbagai kegiatan industri," katanya.

Sedikitnya ada lima perusahaan yang siap meningkatkan kapasitas produksinya hingga mencapai 50%. "Total investasinya mencapai US$10 juta," tegasnya.

Kendati tidak menyebutkan nama-nama perusahaan itu. Namun, kelima perusahaan itu berbasis di Solo, Bandung, dan Karawang. Peningkatan kapasitas ini akan dilaksanakan hingga akhir 2008. Selain itu, lanjutnya, ada beberapa perusahaan yang akan meningkatkan produksinya pada pertengahan 2009.

Untuk menjaga momentum tingginya permintaan terhadap mesin perkakas, kata dia, Asimpi meminta pemerintah untuk menghentikan impor mesin bekas.

"Jika pemerintah tidak menghentikan, industri dalam negeri tidak dapat menikmati keuntungan tersebut," ujarnya.

Mesin bekas

Direktur Industri Mesin Ditjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian Chanty Triharso membenarkan pemerintah tengah mengkaji penghentian impor mesin bekas.

Kendati demikian, ketentuan tersebut sedang dikaji dampak positif dan negatifnya dari berbagai aspek sehingga tidak merugikan kepentingan nasional. "Pembahasannya masih dilakukan dengan melibatkan berbagai asosiasi permesinan," katanya.

Chanti optimistis peningkatan permintaan di sektor mesin perkakas akan terus berlanjut hingga tahun depan.

"Industri mesin perkakas sedang tumbuh seiring dengan naiknya permintaan pasar," tuturnya.

Selain dari sektor industri, lanjutnya, permintaan diajukan sekolah menengah kejuruan pada tahun ini mencapai Rp900 miliar yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). "Belum lagi permintaan industri," tambahnya.

Pertumbuhan tersebut membuktikan bahwa industri mesin perkakas di dalam negeri mulai dipercaya konsumen. Kondisi tersebut dapat mengurangi impor sektor permesinan dan barang modal yang setiap tahun terus melonjak hingga mencapai nilai US$8 miliar.

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain