Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 03/10/2008

Konsumsi baja diprediksi melonjak 25%

JAKARTA: Konsumsi baja nasional pada tahun depan diprediksi melonjak 25% dari perkiraan 4,5 juta ton pada tahun ini menjadi 5,63 juta ton.

Lonjakan permintaan itu dipicu oleh realisasi ekspansi dan investasi baru sektor manufaktur dan transportasi, termasuk proyek ambisius yang dicanangkan pemerintah di bidang infrastruktur berupa PLTU 10.000 MW yang tahap pertamanya diperkirakan rampung pada 2009.

Kenaikan permintaan baja domestik yang cukup signifikan ini dihitung dari peningkatan produksi finished product seperti pelat timah, profil las, pipa baja, baja batangan, besi dan kawat beton, kawat baja, hingga paku. Selain itu, juga akan terjadi kenaikan produksi pada semifinished product seperti baja canai panas dan dingin/HRC dan CRC, pelat baja, dan wire rod/kawat baja). Peningkatan konsumsi ini secara otomatis akan ikut mendongkrak konsumsi per kapita dari 29 kg menjadi 33 kg - 35 kg.

Sejumlah pengamat dan pelaku industri baja nasional memperkirakan lonjakan konsumsi baja pada tahun depan tetap terjadi kendati terjadi kenaikan harga sebagai dampak lanjutan jika harga minyak mentah dunia kembali merambat naik di atas US$150 per barel.

Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Fazwar Bujang menjelaskan lonjakan konsumsi baja di dalam negeri masih tidak bisa dilepaskan dari tingginya pertumbuhan industri baja China.

Tingginya pertumbuhan itu menyebabkan Negeri Panda ini terus-menerus menjaga pertumbuhan ekspor ke pasar terbuka, terutama ke negara-negara dengan konsumsi baja yang relatif kecil seperti Indonesia.

"Pertumbuhan industri baja China tetap menjadi faktor dominan dalam pertumbuhan dan persaingan industri baja nasional ke depan," kata Fazwar kepada Bisnis, baru-baru ini.

Harga naik


Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari memperkirakan jika kenaikan harga minyak mentah kembali terjadi pada tahun depan, harga baja semifinished yakni jenis HRC (hot rolled coils) dipastikan terdongkrak ke posisi tertinggi sekitar US$1.500 per ton.

"Bahkan bisa lebih tinggi," katanya kepada Bisnis. Pada 2008, harga baja sempat menembus level tertinggi sekitar US$1.200 per ton dan berangsur turun seiring dengan merosotnya harga minyak dunia.

Dia menyatakan kendati konsumsi baja nasional pada 2009 melonjak, kondisi pasar baja di sektor hulu dan hilir diperkirakan tetap mengalami ketimpangan akibat tekanan lanjutan dari lonjakan harga baja internasional dan kondisi pasokan baja yang terbatas di dalam negeri.

"Saat ini penetrasi pasar berlangsung cepat dan tanpa batas negara [borderless] sementara permintaan baja di negara berkembang terus meningkat. Industri baja nasional seharusnya mampu merespons peningkatan ini pada tahun depan dengan menambah investasi baru." katanya. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Oleh Yusuf  Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain