Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Manufaktur
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 06/10/2008
Dua perusahaan mainan Korsel realisasikan investasi di Indonesia
JAKARTA: Dua dari lima perusahaan mainan asal Korea Selatan yang akan merelokasi pabrik dari China ke Indonesia mulai merealisasikan investasi dengan menyelesaikan pembangunan pabrik baru.
Pabrik mainan dua perusahaan Korea Selatan tersebut diharapkan selesai dibangun pada akhir tahun ini sehingga dapat dan mulai berproduksi pada tahun depan.
Direktur Industri Aneka Departemen Perindustrian Budi Irmawan mengatakan para pengusaha asing dan lokal yang berniat membangun pabrik mainan di Indonesia sangat beragam. Tingginya permintaan pasar domestik terhadap produk mainan Indonesia membuat industri mainan global mengincar pasar di Indonesia.
"Apalagi, industri mainan China sedang menghadapi kasus penggunaan bahan kimia berbahaya yang menimbulkan hengkangnya beberapa investor lokal dan asing di sana," katanya, belum lama ini.
Dia mengungkapkan sejak akhir 2007 terdapat sekitar lima pengusaha yang berniat mendirikan pabrik di Indonesia, tetapi hingga kini baru ada dua perusahaan yang segera merealisasikan rencananya tersebut yakni PT Leosco Indonesia dan PT Sung Wong Indojaya.
PT Leosco, jelasnya, masih merampungkan pembangunan pabrik di Subang, Jawa Barat dengan kapasitas produksi sebanyak 7 juta pasang per tahun. Nilai investasi pabrik baru tersebut mencapai US$1 juta.
PT Sung Won, lanjutnya, juga akan membangun pabrik di Subang. Kapasitas produksi pabrik itu diperkirakan mencapai 2,5 juta unit dengan nilai investasi Rp7,5 miliar. "Mereka telah mendapatkan izin prinsip dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)," tegasnya.
Budi menuturkan sebenarnya tidak hanya pengusaha asal Korea Selatan yang tertarik berinvestasi di industri mainan di Tanah Air. Sejumlah perusahaan mainan dari kawasan Uni Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur juga ikut mengalihkan pesanannya dari China ke Indonesia seperti Kanada, Inggris, dan Hong Kong. "Nilai pengalihan order-nya bisa mencapai US$50 juta," ungkapnya.
Pengalihan order mainan terjadi lantaran mainan China diindikasi mengandung zat berbahaya untuk anak-anak. Menurut investor asing itu, produk Indonesia selain aman juga memiliki kualitas yang lebih baik jika dibandingkan dengan China. Selain itu, upah buruh yang lebih kompetitif menyebabkan mereka memindahkan produksi.
"Di sisi lain, apabila keberadaan pabrik dekat dengan pasar, biaya produksi industri dapat ditekan."
Ketua Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) Widjonarko Tjokroadisumarto mengatakan pembangunan pabrik itu akan dilakukan secara bertahap seiring dengan pengalihan order yang direncanakan rampung hingga tahun depan. "Saya telah mendengar rencana investasi itu," tegasnya. Ia juga membenarkan tentang pengalihan order dari tiga negara ke Indonesia.
Dengan pengalihan order itu, APMI telah menaikkan target penjualan produk mainan anak secara nasional pada tahun ini menjadi US$ 250 juta dari target sebelumnya US$ 220 juta. Pasalnya, hingga semester I/2008, penjualan mainan telah menyamai rekor penjualan total pada tahun lalu, yakni sebesar US$ 100 juta. "Kami optimistis target ini akan tercapai."
Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- Industri padat karya kalkulasikan dana pesangon
- PKT gandakan stok urea bersubsidi
- Produk elektronik impor ilegal kuasai pangsa 50%
'Pemerintah harus amankan pasar domestik' - Industri penunjang telematika
mulai terimbas krisis keuangan - Epson ambisi raih ekspor US$3,15 miliar
- Menperin: Perlu terobosan hadapi krisis global
Pasar elektronik kian melemah - AKSELERASI
Penjualan mobil produksi Kanada meningkat tipis - Sejumlah proyek PLTU gunakan besi impor
Industri baja konstruksi kehilangan potensi penjualan - Holding pupuk mulai
efektif tahun depan - Fahmi: Manufaktur 2009 hanya tumbuh 5%
Kinerja industri semen melambat