Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 17/05/2008
Dukuh Atas jadi pusat antarmoda
JAKARTA: Pemprov DKI Jakarta akan menata kawasan Dukuh Atas Jl. Sudirman Jakarta menjadi pusat pertemuan antarmoda angkutan umum massal berbasis rel, jalan raya, dan jalur khusus busway.
Di Dukuh Atas nanti penumpang dapat pindah moda angkutan umum, baik kereta api, mass rapid transit (MRT), maupun busway Trans Jakarta untuk melanjutkan perjalanannya dengan satu tiket yang terintegrasi.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengatakan pengkajian secara mendalam terhadap rencana pembangunan pusat pertemuan jaringan moda angkutan umum massal itu terus dilaksanakan dengan melibatkan seluruh instansi terkait.
"Kajian harus terus dilakukan agar tidak menimbulkan masalah pada kemudian hari, misalnya menyebabkan kemacetan lalu lintas," katanya di Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan kajian pembangunan pusat pertemuan antarmoda angkutan umum Dukuh Atas itu termasuk kemungkinan membentuk suatu badan khusus yang mengoordinasikan pengelolaan stasiun dan selter terpadu.
Sekarang ini terdapat stasiun kereta api di Dukuh Atas untuk melayani transit penumpang KA Jabotabek, KA Lingkar Ciliwung dan rencananya ditambah KA Bandara Sukarno Hatta-Manggarai yang dioperasikan oleh PT Railink.
Stasiun kereta api itu terintegrasi dengan selter busway Dukuh Atas, yang merupakan bagian dari jaringan busway koridor I (Blok M-Kota), koridor IV (Dukuh Atas-Pulogadung), koridor VI (Dukuh Atas-Ragunan) dan ke koridor lainnya.
Penumpang kereta api atau busway dapat melanjutkan perjalanan ke Lebak Bulus, ataupun Kota dengan menumpang kereta bawah tanah dari stasiun MRT Dukuh Atas.
Pembangunan pusat pertemuan antarmoda angkutan umum massal tersebut merupakan bagian dari pembangunan jaringan busway dan MRT yang digarap oleh Pemprov DKI Jakarta serta kereta api oleh PT Kereta Api.
Alternatif
Prijanto mengatakan pembangunan angkutan massal menjadi alternatif yang paling memungkinkan untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas di Ibu Kota dengan upaya menekan jumlah pengguna kendaraan pribadi.
Sebab, satu armada bus Transjakarta dapat mengangkut sekitar 70 orang penumpang dan jumlah penumpang tersebut jika diangkut dengan mobil pribadi perlu sebanyak 40 unit mobil atau sepeda motor sekitar 60 unit.
Padahal panjang badan jalan di Jakarta hanya tumbuh sekitar 0,01% per tahun, tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraan sekitar 9%-11% per tahun sehingga daya tampungnya terbatas mengakibatkan terjadinya kemacetan lalu lintas.
"Kalau masalah transportasi dan lalu lintas di Jakarta tidak segera ditangani, dikhawatirkan pada 2012 kendaraan tidak bisa bergerak di jalan."
Oleh Nurudin Abdullah
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- SEPUTAR KOTA
Setiap RS disiapkan kandang kucing - SEPUTAR KOTA
Palyja tekan kebocoran air jadi 2% - SEPUTAR KOTA
Hipmi Jaya diminta rekonsiliasi - 'Kondisikan warga DKI beralih ke ayam potong'
- Pelanggar izin reklame akan dipidana