Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Megapolitan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 28/08/2008

Pasokan BBG minim hambat konversi BBM

JAKARTA: Rencana Pemprov DKI Jakarta mengonversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas untuk kendaraan umum dan dinas pemerintahan di Jakarta terhambat karena minimnya penyediaan bahan bakar gas (BBG) yang ada.

Bahkan sulitnya pasokan BBG itu membuat sejumlah kendaraan kembali beralih menggunakan bahan bakar minyak.

Berdasarkan data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta jumlah kendaraan pengguna bahan bakar gas menurun setiap tahunnya. Hingga 2007, hanya 1.704 kendaraan yang menggunakan BBG, termasuk busway Transjakarta sebanyak 183 unit, mikrolet 36 unit, taksi 605 unit, dan bajaj 250 unit.

Padahal, pada 2000, kendaraan bermotor yang menggunakan BBG mencapai 6.633 unit, kemudian mulai menyusut menjadi 2.500 kendaraan pada 2002.

Adapun jumlah kendaraan dinas Pemprov DKI Jakarta yang menggunakan BBG tercatat sebanyak 8.697 unit per 2007.

Angka tersebut juga diproyeksi mengalami penurunan menyusul makin sulitnya mendapat bahan bakar ramah lingkungan itu.

Kepala BPLHD DKI Jakarta Budirama Natakusumah mengatakan untuk merealisasikan rencana tersebut pihaknya berharap kepada pemerintah pusat dalam hal ini BUMN sebagai penyedia BBG secara berkesinambungan menyuplai BBG, dan menambah jumlah stasiun pengisian bahan bakar umum di Jakarta.

"Untuk stok BBG sendiri kendala utamanya ada pada suplai, kendaraan dan sistem pengamanannya yang belum maksimal. Karenanya kami meminta pihak BUMN bisa menambah jumlah SPBG itu," ujarnya

Padahal, katanya, sejumlah perusahaan jasa angkutan umum telah menyatakan bersedia menggunakan BBG, karena dianggap ramah lingkungan dan lebih hemat dibandingkan dengan BBM lainnya.

Saat ini, jumlah SPBG yang beroperasi di Jakarta baru delapan unit, yang tiga di antaranya masih dalam tahap pembangunan, dan ditargetkan rampung September.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta  Muhayat mengakui sampai saat ini pasokan BBG di Jakarta masih menjadi masalah, sehingga banyak pengguna kendaraan BBG beralih ke BBM, dan menghambat rencana konversi bahan bakar ke gas di Jakarta.

Pemprov, telah memberikan izin kepada sejumlah perusahaan untuk membangun fisik SPBG, tetapi sampai saat ini distribusi BBG dari Pertamina belum berjalan. Dia berharap munculnya rumusan baru untuk kemajuan implementasi penerapan kebijakan Pemprov dalam hal pemanfaatan BBG bagi kendaraan bermotor di Ibu Kota.

Sementara itu, penumpukan penumpang yang terjadi di sejumlah halte busway TransJakarta juga disinyalir karena minimnya pasokan BBG di Jakarta.

Oleh Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • SEPUTAR KOTA
    MPI tanam 500 pohon sukun
  • SEPUTAR KOTA
    Jalur sepeda segera diuji coba
  • 2.291 PNS Jakarta terancam kehilangan jabatan
  • Omzet jasa hiburan tergerus 20%