Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Megapolitan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 08/09/2008

Penanganan limbah cair belum serius

JAKARTA: Sistem pengelolaan limbah cair di Jakarta semakin buruk karena belum ada upaya maksimal dari pemprov untuk menangani masalah tersebut, kecuali dengan menyosialisasikan sumur resapan dan lubang biophori di masyarakat.

Adapun fungsi sumur resapan dan lubang biophori tidak bisa secara maksimal mengatasi pencemaran lingkungan, khususnya air tanah dangkal dan permukaan yang ditimbulkan oleh limbah cair dari aktivias rumah tangga dan industri.

Anggota Bidang Teknik Badang Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta Firdaus Ali mengatakan kondisi semakin diperparah oleh aktivitas pembangunan tempat pembuangan limbah cair oleh warga secara tidak terkendali dan tidak terkoordinasi dengan baik.

Karena padatnya permukiman penduduk di sebagian besar kawasan di Ibu Kota sekarang ini sulit menentukan jarak ideal antara lubang tempat pembuangan limbah di satu rumah dan sumur milik tetangga, terutama pada permukiman padat.

"Karena itulah air tanah dangkal dan permukaan di Jakarta, terutama di daerah permukiman padat sangat buruk kualitasnya dan tidak layak untuk dikonsumsi. Tetapi sayang, cakupan layanan air bersih dari perusahaan daerah pengelola air bersih masih rendah," katanya baru-baru ini.

Firdaus mengatakan DKI Jakarta merupakan salah satu kota metropolitan di dunia dengan penduduk di atas lima juta jiwa yang belum mempunyai jaringa air limbah (sewerage system) yang memenuhi kaidah teknologi dan sanitasi.

Cakupan layanan sistem jaringan air limbah yang saat ini ada di kawasan Setiabudi Jakarta Selatan yang merupakan pilot project dari Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PD PAL) DKI Jakarta baru mampu melayanai sekitar 2,9% kawasan tersebut.

Hal itu karena sarana dan prasarana pengelolaan sangat minim sehingga efektivitas penanganan limbah cair perkotaan sangat jauh dari standar kebutuhan sanitasi perkotaan.

Menurut dia, sistem penanganan limbah cair domestik yang ada di Jakarta sekarang ini menggunakan sistem perpipaan yang dikelola oleh PD PAL dengan teknologi aerator di waduk Setiabudi.

Namun, lanjutnya, sistem pengelolaan limbah cair di waduk Setiabudi belum optimal, terutama pada musim hujan.

Oleh Nurudin Abdullah
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • SEPUTAR KOTA
    MPI tanam 500 pohon sukun
  • SEPUTAR KOTA
    Jalur sepeda segera diuji coba
  • 2.291 PNS Jakarta terancam kehilangan jabatan
  • Omzet jasa hiburan tergerus 20%