Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Megapolitan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Selasa, 07/10/2008
Inflasi bulan maret melampaui eksptektasi
Operasi pasar gagal redam harga
JAKARTA: Serangkaian operasi pasar sejumlah bahan pokok dan pasar murah yang digelar Pemprov DKI bersama kalangan swasta di berbagai wilayah Ibu Kota selama bulan puasa terbukti gagal meredam kenaikan harga barang.
Badan Pusat Statistik DKI mengumumkan laju inflasi bulan tersebut mencapai 1,02% (month-on-month) menjadikannya tertinggi dalam tiga tahun terakhir, sekaligus melampaui ekspektasi dan kebiasaan inflasi pada bulan-bulan puasa sebelumnya yakni di bawah 1%.
"Kenaikan inflasi ini sangat signifikan, mencapai 0,78% dari inflasi Agustus 2008. Tingkat konsumsi warga selama Ramadan dan Lebaran terbukti meningkat tajam," kata Kepala BPS DKI Djamal saat melaporkan angka inflasi September di Jakarta, kemarin.
Dengan inflasi September sebesar 1,02%, laju inflasi tahunan DKI mencapai 11,31% dengan inflasi tahun kalender 10,16% (year-on-year). Di tingkat nasional, inflasi September 0,97% (month-on-month) dengan inflasi tahunan 12,14% dan inflasi tahun kalender 10,47%.
Djamal mengatakan inflasi September di DKI didorong oleh kenaikan indeks bahan makanan yang mencapai 0,51%. Kenaikan bahan makanan terutama terjadi pada sub kelompok daging dan hasil-hasilnya, serta sayur-mayur yang dikonsumsi warga.
Sepekan menjelang Lebaran, harga daging sapi di Jakarta membubung hingga Rp85.000 per kilogram, sedang harga daging ayam mencapai Rp35.000 per ekornya. Meski, pada saat yang sama pemprov sudah menggelar operasi pasar daging dengan harga Rp55.000 per kg.
Selain kelompok bahan makanan, sambung Djamal, indeks lain yang mengalami kenaikan utama adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,05%, perumahan, air, listrik dan gas 0,37%, serta transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,06%.
"Indeks kelompok sandang mengalami deflasi sebesar -0,02% bukan karena harga-harga pakaian menurun. Deflasi kelompok sandang ini diakibatkan menurunnya harga emas di pasaran," ujarnya.
Menurut dia, lonjakan inflasi itu juga dipicu kondisi geografis Jakarta yang bukan lokasi sumber penghasil bahan makanan. Dengan posisi itu, harga bahan makanan di pasaran amat bergantung pada stok dan suplai dari daerah.
Mulai turun
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Nurrachman mengatakan mulai kemarin, lonjakan harga bahan pangan yang terjadi di pasar-pasar tradisional di Jakarta terutama sejak sepekan menjelang Lebaran sudah mulai reda.
Dia menyebutkan ada dua jenis bahan pokok, yaitu kelompok daging dan sayur-mayur yang harganya sudah turun. Harga daging sapi misalnya, sudah dari Rp78.000 per kg jadi Rp70.000 per kg, dan daging ayam broiler dari Rp30.000 per kg jadi Rp25.000 per kg.
Nurrachman mengakui, selain dua jenis komoditas bahan pangan itu, harga bahan pokok lain cenderung tetap. Harga beras, misalnya, masih berkisar Rp4.800 per kg-Rp6.100 per kg, gula pasir Rp6.600 per kg, dan minyak goreng Rp8.500 per kg-Rp12.000 per kg.
Namun, dia meyakini, harga jenis bahan pokok yang bertahan tinggi itu akan segera turun. "Stok semuanya aman. Beras cukup untuk 39 hari, gula untuk 30 hari, daging 160 hari, telur ayam 95 hari, dan minyak goreng 289 hari ke depan," terangnya. (mia.chitra@bisnis. co.id)
Oleh Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- SEPUTAR KOTA
Kunjungan wisman Oktober pecahkan rekor - Urgensi perbaikan jalur Cakung-Cilincing
- SEPUTAR KOTA
Sindikat pencuri air minum tertangkap - SEPUTAR KOTA
Hiburan malam libur selama Iduladha - SEPUTAR KOTA
Pedagang di Cipulir ditertibkan