Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Megapolitan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 09/10/2008
Memahami kegagalan operasi pasar daging
Tinjauan ekonomi klasik mengungkapkan konsep harga ditentukan oleh dua kekuatan, yakni permintaan dan penawaran. Kenaikan permintaan mendorong kurva harga bergerak ke atas. Sebaliknya, kenaikan penawaran menurunkannya.
Dalam konteks kenaikan harga daging sapi di DKI selama Ramadan lalu, permintaannya naik 15%-20%.
Adapun penawarannya, melalui penyediaan stok, dilipatgandakan sebesar 30%-40%. Hasilnya, harga yang terbentuk pada akhir Ramadan meroket hingga 50%.
Kenapa penambahan stok dan juga operasi pasar tidak memberikan pengaruh apa pun terhadap pembentukan harga daging di DKI, malah harganya justru kian membubung, penjelasannya bisa ditakik paling tidak dari tiga hal.
Pertama, operasi pasar daging yang dilakukan mengabaikan aspek kecepatan dan ketepatan artikulasi. Dalam perdagangan komoditas, kecepatan adalah faktor beroleh margin, artikulasi yang tepat membantu memperoleh margin lebih besar.
Operasi pasar yang terlambat baru betul-betul berjalan pada pekan ketiga Ramadan dan tidak dilakukan secara intens tidak saja akan menuai kegagalan, tetapi juga merupakan bentuk pemborosan, atau yang lebih rendah dari itu, sekadar mencari perhatian.
Pemahaman atas peran vital kecepatan dan ketepatan artikulasi ini mengandaikan persiapan matang menyangkut prosedur atau protokol dan mekanisme baku yang diketahui secara luas tentang kapan dan bagaimana operasi pasar digelar atau dihentikan.
Dengan kata lain, sebagai sentuhan ad hoc taktis yang dibutuhkan sewaktu-waktu, operasi pasar butuh patokan harga yang berguna laiknya detektor bom: Bila di suatu tempat detektor itu berbunyi tut tut, operasi pasar harus segera digelar. Bila tit tit, operasi dihentikan.
Kedua, dilupakannya aspek pemerataan distribusi dan kelancaran pasok. Jawaban dari kenapa harga daging tetap membubung meski stok sudah dilipat gandakan sebenarnya sederhana saja. Sebab stok adalah satu hal, sedangkan distribusi dan pasok adalah hal lain.
Singkatnya, kenaikan harga daging di tengah pelipatgandaan stok tidak meruntuhkan sedikit pun bangun teori supply-demand ekonomi klasik. Kenaikan harga daging selama Ramadan sekadar mengonfirmasi adanya hambatan pemerataan distribusi dan kelancaran pasok.
Ketiga, tidak efektifnya sisi manajemen organisasi kepentingan. Ini sisi ekonomi politik pengambilan keputusan operasi pasar yang menjadi porsi Pemprov DKI. Aspek ini relevan karena setiap intervensi pasar, dalam bentuk apa pun, akan selalu makan ongkos.
Pengingkaran terhadap sisi pembiayaan itu, misalnya dengan membebankan ongkos operasi pasar pada pedagang swasta atas alasan penghematan kas daerah, tidak saja akan menurunkan efektivitas operasi itu sendiri, tetapi juga membuka ruang kompensasi yang baru bagi mereka.
Operasi pasar daging di Ibu Kota selama Ramadan lalu, kita tahu, dilaksanakan bukan oleh pemprov selaku penyelenggara negara.
Pelaksananya adalah PD Dharma Jaya bersama sekitar 10 perusahaan swasta produsen-importir daging.Mereka yang pada saat bersamaan berlomba memperebutkan pasar daging di Ibu Kota senilai lebih dari Rp1,2 triliun setiap tahunnya itulah yang menggelar operasi pasar daging. Di pasar daging Jakarta, dengan kata lain, mereka seperti Janus yang berwajah dua.
Satu sisi wajahnya adalah pedagang yang hiruk saling sikut berebut margin, sisi wajahnya yang lain adalah malaikat yang bersiap rugi menurunkan harga. Mungkin memang bisa dua wajah itu dipisahkan. Tapi kita tahu betapa sulitnya. (bastanul.siregar@bisnis. co.id)
Oleh Bastanul Siregar
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- SEPUTAR KOTA
Kunjungan wisman Oktober pecahkan rekor - Urgensi perbaikan jalur Cakung-Cilincing
- SEPUTAR KOTA
Sindikat pencuri air minum tertangkap - SEPUTAR KOTA
Hiburan malam libur selama Iduladha - SEPUTAR KOTA
Pedagang di Cipulir ditertibkan