Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Oasis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Selasa, 26/08/2008

Tidak mudah membuat film tema anak-anak

Sejak industri perfilman nasional mulai bangkit lima tahun belakangan ini, terasa sedikit sekali rumah produksi yang berkeinginan membuat film anak-anak usia sekolah dasar, baik untuk tayangan televisi maupun layar lebar. Umumnya, film yang bermunculan bertemakan drama remaja, komedi, dan horor.

Tahun ini, tercatat baru satu film layar lebar tema anak-anak diproduksi yakni Liburan Seruuu! garapan Sofyan D. Surza. Begitu juga pada 2006. Yang diputar di gedung bioskop hanya Denias, Senandung Di atas Awan.

Memang jumlah tayangan di televisi terbilang lumayan daripada layar lebar. Namun, itu pun digarap untuk kejar tayang sehingga secara kualitas karya sineas anak-anak tidak tergarap dengan baik.

Memang tidak mudah membuat film untuk anak-anak. Selain bahasanya harus santun, gambar pun disesuaikan dengan tatanan psikologis mereka. Tidak sebebas karya sinematografi pada umumnya. Belum lagi untuk urusan strategi pemasaran, misalnya, bagaimana agar produksi tersebut dapat dikemas secara komersial.

Kecemasan terhadap film dan tayangan untuk anak dirasakan oleh Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) Seto Mulyadi. Dia merasa prihatin terhadap kualitas film anak-anak, baik produksi lokal maupun asing. Terutama yang diputar di televisi karena sarat adegan keras dan tidak sesuai dengan perkembangan jiwanya.

Kekerasan, katanya, tak pantas diperlihatkan kepada anak-anak usia prabelajar dan sekolah dasar. Adegan itu akan banyak memengarhui kejiwaan anak yang notabene masih berkembang.

"Saya berharap ke depan ini banyak film untuk anak-anak diproduksi. Namun, tentunya harus memenuhi unsur pendidikan yang ideal menurut ukuran usia anak-anak," katanya kepada Bisnis di tengah-tengah acara selamatan produksi film genre anak-anak bertajuk Rizky, si Anak Ajaib, kemarin.

Dia berharap film Rizky, si Anak Ajaib lebih difokuskan kepada dunia pendidikan dalam konteks ilmu pengetahuan dan moralitas, budaya serta tidak menampilkan adegan kekerasan di dalamnya.

"Sangat tidak gampang membuat film anak-anak, memang. Meski begitu, saya berharap film ini memicu produser film lain untuk ramai-ramai menggarap tema anak-anak."

Heroik


Hal senada dikatakan penulis Hilman Hariwijaya yang merasa terpanggil untuk memproduksi film anak-anak layar lebar. Novelis sekuel Lupus itu kini mengikuti jejak Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale yang sukses membuat film Denias, Senandung Di Atas Awan dan Liburan Seruu!

"Secara pribadi, membuat film anak-anak tantangan bagi saya. Mungkin juga penulis, produser, dan sutradara lain yang belum pernah bikin film itu. Lewat Rizky, si Anak Ajaib saya mencoba tantangan itu," katanya.

Hilman mengakui tingkat kesulitan membuat film anak-anak jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan menggarap film drama dan komedi untuk dewasa. Terutama soal pemilihan adegan, tata bahasa, tema cerita, serta kemasan komsersial agar film tersebut diminati bukan saja oleh anak-anak tetapi juga keluarga.

"Kita tahu, anak-anak suka dengan tema heroik. Itu sebabnya, pada film pertama saya ini nilai itu ditonjolkan. Kemasan filmnya lebih pada kecanggihan teknologi efek digital," papar Hilman.

Menurut dia, film produksi bersama Lupus Entertainmant dan Ganesha Perkasa Films tersebut berbeda dengan kebanyakan film anak-anak produksi lokal. "Penggarap film ini, Tjandra [sutradara], sineas yang biasa mengerjakan film iklan. Jadi pendekatan teknologi efeknya seperti itu dan hasilnya pasti tak beda dengan film-film Barat, khususnya untuk teknologi komputer," jelas Hilman.

Agar film anak-anak pertamanya itu sukses dan punya bobot sebagai tontonan yang menghibur, Hilman melibatkan pemeran anak-anak berbakat seperti Bio One, Chrisy, dan Keishya Ratuliu. Sementara pemain seniornya dipercayakan kepada Ray Sahetapy, Ira Wibowo, Ferry Salim, Chintami Atmanegara, Edi Brokoli, dan El Manik. (sinano@bisnis.co.id)

Oleh S. Hadysusanto
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • SENGGANG
    Film baru Madonna untuk Hari AIDS
  • SENGGANG
    Belajar fisika tanpa rumus marak
  • Dunia usaha perangi HIV/Aids
  • 'Nasib Nurdin Halid bergantung pada PSSI'