Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Oasis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 27/08/2008
Istri pejabat & pengusaha di pentas wayang orang
Setelah sukses menggelar pentas wayang orang bertajuk Banjaran Abimanyu pada April 2008 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Yayasan Mitra Wayang Orang Indonesia (YMWOI) dan kelompok Wayang Orang Bharata kembali mempertunjukkan kesenian itu di tempat sama tadi malam.
Gedung berkapasitas 500 orang dipadati pengunjung dari berbagai strata sosial dan profesi. Mulai dari kelompok pencinta seni wayang, pejabat, profesional, pengusaha hingga tokoh masyarakat. Mereka menyimak serius pergelaran bertajuk Banjaran Gatotkoco berdurasi 90 menit itu.
Di antaranya tampak Adang Darajatun, Hendropriyono, dan Edward Soeryajaya Kehadiran mereka, selain melepas rindu terhadap seni pentas pewayangan, sekaligus ingin melihat langsung kemampuan sang istri bergaya di atas panggung.
Di pentas itu tercatat nama pemain di luar WO Bharata seperti Tati Hendropriyono, Atila Soeryajaya, Nunun Daradjatun, Nukke Mayasafira, dan Rima Melati.
Menurut Ketua Umum YMWOI Atila Soeryajaya, pentas wayang kali ini melibatkan 80 seniman WO Bharata dan lebih 40 orang dari berbagai profesi, a.l pengusaha, tokoh masyarakat, profesional, sarjana teknik, artis dan ibu rumah tangga.
"Yang menarik, mereka yang terlibat itu tidak sedikit dari luar suku Jawa, tapi mampu memainkan seni pentas wayang dengan baik," kata Atila kepada Bisnis di tengah persiapan pentas tadi malam.
Antusiasme tinggi
Dia menjelaskan meski jadwal latihan hanya sebulan tetapi pemain yang bukan berlatar belakang seniman pentas tidak menjadikan waktu singkat sebagai alasan untuk tidak tampil maksimal. Justru antu-sias yang begitu tinggi terhadap budaya leluhur itu membuat mereka cepat menangkap keinginan Daryono Supono, selaku sutradara.
"Kalau soal tarian, barangkali mudah dipelajari. Tapi bahasa Jawa yang santun mungkin agak sukar untuk diucapkan. Apalagi banyak di antara pemain 'cabutan' itu bukan berasal dari suku Jawa," paparnya.
Sekalipun agak terbata-bata, lanjut Atila, pemain tersebut tetap percaya diri akan kemampuan berdialeg dalam bahasa Jawa halus. Hasilnya, seperti yang mereka tampilkan tadi malam, pertunjukan mulus dan nyaris mirip orang Jawa berbicara.
"Perjuangan mereka cukup tinggi. Bisa dibayangkan sulitnya pemain asal Jawa Barat, Palembang, Jakarta dan daerah lain berdialog Jawa. Namun, mereka gigih mempelajari skenario yang ditulis dalam bahasa ibu wayang tersebut," ungkapnya.
Sebagai istri pengusaha, Atila mengaku tidak terlalu sulit mementaskan seni wayang meski sebelumnya kurang paham dan sulit berbahasa Jawa yang santun. "Setelah dipelajari mudah kok. Tetapi konsekuensinya, kapan saja, di mana saja selalu baca skenario drama wayang itu."
Tujuan pentas itu sendiri, lanjutnya, mengajak pengusaha, tokoh masya-rakat dan generasi muda mencintai budaya wayang. Dia prihatin terhadap kondisi kesenian itu, semakin hari kian dilupakan bangsanya. Sementara orang-orang asing begitu getol mempelajarinya.
"Tidak bisa kita bayangkan nasib seni wayang di era dua generasi ke depan jika hari ini saja mulai dilupakan. Aneh kan, cucu kita nanti belajar pewayangan dari orang asing," ungkap Atila. (sinano@ bisnis.co.id)
Oleh S. Hadysusanto
Bisnis indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- SENGGANG
Remaja AS suka contek & berbohong - SENGGANG
Sony optimistis di final Super Series - SENGGANG
Ronaldo pemain terbaik Eropa - Dilema legalisasi lokalisasi dan reduksi penyebaran HIV
Bagian terakhir dari dua tulisan - Disiapkan Piala Citra untuk film berbahasa yang baik