Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Oasis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 05/09/2008
Pappri: Malaysia kekanak-kanakan
JAKARTA: Pengurus Persatuan Artis, Pencipta lagu dan Penata musik Rekaman Indonesia (Pappri) dan Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri) menilai rencana pembatasan lagu Indonesia di radio swasta negeri jiran itu merupakan langkah mundur bagi musisi dan seniman Malaysia serta kekanak-kanakan.
Tidak cukup alasan bagi Persatuan Karyawan Industri Musik Malaysia (Karyawan) dan Persatuan Penyanyi dan Pencipta Lagu Malaysia (Papita) mendesak pemerintahnya agar mengeluarkan kebijakan pembatasan bagi lagu-lagu Indonesia yang di putar di stasiun radio swastanya.
Tindakan itu, menurut organisasi musisi Indonesia, sama saja membatasi hak orang lain, terutama menyangkut selera dan kenikmatan terhadap kesenian, sesuatu bentuk yang tidak dapat ditoleransi pada era globalisasi dan kebebasan berpendapat.
Menurut komposer yang juga Ketua Pappri James F. Sundah, sekarang ini selera orang terhadap karya musik tidak bisa dibatasi. Apalagi dunia maya lewat Internet sudah menguasai kehidupan manusia di muka bumi ini.
"Sekalipun pemutaran lagu Indonesia dibatasi, toh rakyat Malaysia bisa mendengarnya lewat radio Internet. Jika sampai kejadian seperti itu, yang merugi adalah stasiun radio karena pasokan iklan akan berkurang," urainya kepada Bisnis kemarin.
Seperti diketahui, program terkait lagu-lagu Indonesia di radio Malaysia rating iklannya cukup tinggi dibandingkan dengan acara yang diisi karya pencipta musisi negeri jiran itu. Itu berarti, karya komposer Indonesia cukup diminati.
James mengingatkan dampak lain dari pembatasan itu adalah hilangnya devisa pemerintah Malaysia dari sektor pajak. Nilai pendapatan dari lagu Indonesia tidak bisa diremehkan.
"Sebaliknya, sejauh ini Pappri belum mendengar musisi di sini dapat royalti dari pemutaran karya ciptanya di Malaysia. Masalahnya, sampai saat ini belum ada lembaga yang menangani royalti itu. Diputar atau tidak diputar, secara ekonomis, komposer kita nggak dapat apa-apa," ungkap James.
Pencipta lagu Lilin Lilin Kecil itu tidak mengetahui maksud tuntutan Papita dan Karyawan tersebut. James menduga hal itu bermuatan politik. "Atau juga kurang suka melihat pesatnya perkembangan industri musik Indonesia. Namun, apa pun alasannya, wacana pembatasan dapat diartikan sebagai langkah mundur musisi Malaysia."
Mestinya, lanjut James, fenomena itu harus jadi pemicu kreativitas musisi Malaysia dalam menciptakan lagu. Bukan mengambil ancang-ancang permusuhan dengan tuntutan kuota 90% lagu lokal, dan sisanya baru karya cipta asing (Indonesia) yang di putar di stasiun radio swasta.
"Secara pribadi saya sangat menyesali sikap mereka. Seharusnya dua organisasi itu menuntut komposer Malaysia agar membuat lagu lebih variatif, tidak monoton, sehingga masyarakatnya menyukai," kata James.
Gesekan emosi
Hal senada dikatakan General Manager Asiri Michael Edwin. Tuntutan tersebut itu intinya karena komposer Indonesia mampu membuat lagu yang dapat menyenangkan masyarakat Malaysia.
"Fakta itu harus diakui oleh mereka. Namun, bukan berarti kesenangan itu dibatasi hanya karena lagu-lagu Malaysia kurang diputar. Sikap seperti itu bukan solusi yang baik, justru melahirkan gesekan emosi dengan musisi di sini," kata Edwin kepada Bisnis.
Menurut dia, apabila Pemerintah Malaysia merealisasikan tuntutan Papita dan Karyawan, tidak tertutup kemungkinan komunitas serupa di sini akan melakukan hal yang sama.
"Sekalipun lagu-lagu Malaysia yang beredar di sini sedikit, tetapi artisnya bisa diboikot ketika akan melakukan konser. Itu kan kurang sehat, tidak baik bagi negara bertetangga," paparnya.
Namun, dia berharap jangan sampai hal itu terjadi, karena akan membuat kerugian besar bagi komunitas musisi dua negara. "Saya meminta kepada dua organisasi musisi Malaysia untuk meninjau kembali tuntutannya itu, dan berpikir untung ruginya," saran Edwin.
Bagi Asiri, lanjutnya, rencana pembatasan jumlah pemutaran lagu Indonesia tidak merugikan dari sisi bisnis sebab, dari sisa kuota dapat dijadikan ajang promosi.
"Angka penjualan fisik kaset dan CD di Malaysia masih cukup lumayan sampai saat ini. Termasuk penggunaan ringtone bagi pemakai telepon seluler di sana. Artinya, rencana dua organisasi itu tak akan berpengaruh banyak." (sinano@bisnis.co.id)
Oleh S. Hadysusanto
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- SENGGANG
Remaja AS suka contek & berbohong - SENGGANG
Sony optimistis di final Super Series - SENGGANG
Ronaldo pemain terbaik Eropa - Dilema legalisasi lokalisasi dan reduksi penyebaran HIV
Bagian terakhir dari dua tulisan - Disiapkan Piala Citra untuk film berbahasa yang baik