Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Oasis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 05/09/2008

Padang golf masih jadi pilihan

Padang golf sampai saat ini masih menjadi pilihan bagi perusahaan besar untuk menggelar acara meski kegiatan tersebut tidak harus berhubungan langsung dengan usaha mereka.

Lihat saja  siapa sponsor utama turnamen golf. Pasti ada nama kelompok usaha, entah itu perusahaan otomotif, perbankan, bahkan pupuk. Semua itu membuktikan bahwa lobi di padang golf masih menjadi pilihan bagi para pelaku usaha. Kalaupun bukan demi kepentingan lobi, padang golf bisa menjadi ajang silaturahmi atau kangen-kangenan bagi para eksekutifnya.

Baru-baru ini, PT Sasco Indonesia yang baru berdiri pada 2004 menggelar acara bertajuk Sasco Golf Tournament, bagi para usahawan di bidang pupuk, perkebunan, kimia, pertanian dan keuangan.

Yang bertanding bukan hanya pelaku bisnis lokal, dari luar negeri pun berdatangan antara lain dari Rusia, Inggris, Korsel, Hong Kong dan Malaysia.

Sasco Indonesia, salah satu importir pupuk terbesar di Indonesia yang merupakan anak perusahaan Seng Consolidated Berhad Malaysia, benar-benar melakukan pendekatan melalui stik dan padang golf. Pasalnya, pada kesempatan itu, Sasco Indonesia menganugerahkan 1 Milionth Ton Business Award kepada PT Ciliandra Perkasa sebagai pelanggan yang melakukan pembelian pupuk ke 1 juta ton dari mereka.

Sebagai perusahaan dengan volume penjualan lebih dari 700.000MT pupuk per tahun dan mengimpor pupuk dari seluruh dunia, Sasco memang harus mencari alternatif pendekatan yang bisa diterima semua pihak baik dalam maupun luar negeri. Padang golf lah yang menjadi pilihan.

Golf sebagai olahraga dengan gengsi yang tinggi juga sering menjadi pilihan untuk mengumpulkan dana dan kegiatan sosial. Pekan lalu, misalnya, HSBC menggelar kegiatan HSBC Invitational Golf Challenge 2008 yang bertujuan menggalang dana bagi anak-anak kurang mampu bekerja sama dengan Unicef.

Turnamen yang diadakan di Riverside Golf and Country Club di Cimanggis, Bogor, itu menarik tidak kurang dari 100 pemain golf amatir yang sebagian besarnya adalah nasabah HSBC di Indonesia.

Turnamen golf ini merupakan bagian dari pendahuluan menjelang HSBC Champions 2008, turnamen paling penting bagi para pegolf professional di Asia yang juga disebut sebagai Asia's Major.

HSBC Invitational Golf Challenge 2008 di Indonesia merupakan bagian dari program di tiga negara termasuk Indonesia, Filipina, dan Hong Kong dan telah menggalang dana sebesar Rp6,9 juta dan US$14, 25 juta yang akan dipakai untuk membiayai program Unicef untuk memperbaiki kualitas pendidikan di daerah perdesaan di Indonesia.

Prestasi


Lain lagi dengan Pertamina yang menggelar Pertamina Indonesia President Invitational 2008 diselenggarakan atas kerja sama Asian Tour dengan PGPI dan diorganisasikan oleh PGI.

Turnamen berhadiah total US$400.000 ini jelas ditujukan demi pengembangan olahraga golf.

Tidak heran kalau, Ketua Persatuan Golf Indonesia (PGI) yang juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik mengimbau kepada perusahaan yang sudah maju agar mau menyalurkan dana untuk menjadi sponsor olahraga golf.

"Kami imbau mereka agar mau terlibat untuk pengembangan olahraga golf," kata Jero Wacik pada konferensi pers turnamen golf internasional itu.

Dia juga meyakini bahwa turnamen golf cukup efektif untuk menjadi ajang promosi bisnis serta sebagai promosi pariwisata yang akan sangat membantu bagi pembangunan bangsa dan negara.

"Dari turnamen golf ini Indonesia bisa dipromosikan, karena turnamen ini akan disiarkan melalui televisi ke seluruh negara," katanya.

Ketua PGI juga mengimbau kepada para pengelola lapangan golf untuk tidak segan-segan memberi potongan harga atau bahkan menggratiskan kepada para pegolf yang ingin berlatih di lapangan mereka.

"Menurut saya pengelola lapangan golf tidak akan miskin hanya karena memberi potongan harga atau memberi gratis kepada para pemain golf untuk berlatih," katanya.

Kini pertanyaan besarnya dari apa yang terjadi di lapangan golf adalah mengapa belum ada pegolf kita yang mampu berkiprah di pentas internasional. Tidaklah harus setingkat Tiger Wood yang keturunan Thailand. Bisa bersinar di level Asia saja sudah lebih dari cukup.

Faktanya sampai sekarang, sering perusahaan, organisasi golf dan pegolf lokal hanya menyelenggarakan turnamen golf kelas internasional, tetapi pemenangnya selalu bernama-nama asing. Entah sampai kapan? (eries.adlin@bisnis.co.id)

Oleh Sutan Eries Adlin
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • SENGGANG
    Film baru Madonna untuk Hari AIDS
  • SENGGANG
    Belajar fisika tanpa rumus marak
  • Dunia usaha perangi HIV/Aids
  • 'Nasib Nurdin Halid bergantung pada PSSI'