Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Oasis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 06/09/2008

Ibunda sejati orang utan

"DNA kita hanya berbeda tiga persen dari orang utan. Mungkin itu sebabnya ada di antara kita yang bulunya banyak," celetukan spontan itu membuat akhir pekan di rumah John A. Heffern, Deputy Chief of Mission AS menjadi segar.

Akhir Agustus lalu di rumah orang nomor dua Kedubes AS itu, Birute Galdikas, perempuan bule yang mengabdikan dirinya demi kehidupan orang utan Tanjung Puting, Kalteng sejak 1971 itu, menjadi tamu kehormatan.

Sejumlah tamu dari LSM lingkungan dalam negeri, pejabat Dephut, Deputi Direktur Misi Usaid Indonesia, Robert F. Cunnane, termasuk Dubes AS, Cameron Hume-yang datang belakangan dan diam-diam-memadati rumah asri di bilangan Taman Suropati No. 4, Menteng itu.

John A. Heffern dan istrinya, Libby, lincah dan ramah menyambut para tamu yang antusias. Maklum, bagi kaum filantropis dan pecinta alam, Birute adalah legenda. Sosoknya mendunia sejak tampil di sampul majalah tenar National Geographic.

Saat diterbitkan 1973, foto karya Rod Brindamour memperlihatkan wajah Birute yang menunduk begitu ayu dan segar. Tangan kanannya memondong bayi orang utan. Tangan kirinya menggandeng orang utan muda.

Selain tampil di National Geographic, perempuan kelahiran Jerman dan besar di Kanada itu juga tampil di penerbitan tenar lainnya seperti majalah Life, New York Times, Los Angeles Times, dan Washington Post.

Birute menjadi satu di antara tiga perempuan peneliti kera-terminologi mamalia setingkat di atas monyet-asuhan paleontologis kondang University of California, Los Angeles, Louis Seymour Bazett Leakey.

Selain Birute yang menekuni orang utan, didikan Louis adalah Jane Goodall, peneliti simpanse di Gombe Stream National Park, Tanzania dan pahlawan kaum gorila di Gunung Virunga, Rwanda, Dian Fossey yang akhirnya tewas di negara Afrika itu. 

Dengan pengabdian yang begitu panjang, Birute adalah dian cemerlang di malam jamuan dengan pendar lampu yang remang-remang itu. Semua mata tamu, tua muda, lelaki perempuan sejak sore malu-malu jelalatan mencari sosoknya.

Sayang semua lupa, foto itu sudah 35 tahun yang lalu. Para tamu termasuk saya, sembari menyesap wine yang malam itu terasa lezat terhidang, terus bertanya-tanya "Yang mana sebetulnya Birute Galdikas?"

"Selalu saja setiap kali orang bertanya siapa itu perempuan cantik dan langsing di foto itu. Ya, itulah saya tapi itu 35 tahun yang lalu," ujarnya enteng menertawakan dirinya yang dimakan usia.

Pengabdian total

Pemilik nama lengkap Biruté Marija Filomena Galdikas itu mendarat di bumi Borneo pada 1971 bersama fotografer Rod Brindamour. Saat itu dia baru berusia 25 tahun dan sedang melakukan penelitian untuk desertasinya.

Sebuah perjalanan yang membuatnya jatuh cinta pada orang utan, menempuh terjalnya kehidupan bahkan membuat dirinya merasa perlu melakukan naturalisasi kewarganegaraan menjadi WNI.

Bagi Birute, orang utan menempati tangga penting dalam teori evolusi. Tak hanya kemiripan DNA dengan manusia yang begitu dekat, orang utan ternyata sudah mengembangkan kebudayaan komunikasi lebih maju dibandingkan dengan simpanse.

Tak heran jika Birute mati-matian membela orang utan. Ancaman datang silih berganti dari mafia pedagang orang utan yang memiliki jalinan intim dengan aparat, warga asli, dan penadah di luar negeri. Semua dilawannya.

Pada 1990 nama Birute menjadi tenar saat melakukan advokasi pengembalian enam orang utan yang jadi dagangan di Thailand, sebuah kasus yang dikenal sebagai 'Bangkok Six'.

Akibat aksi berani itu, Orangutan Foundation berdiri pada 1986 di Los Angeles, AS, itu mencuri perhatian dunia dan membuat mafia perdagangan orang utan terpaksa semakin berhati-hati beraksi.

Namun, ibu dari tiga anak yang meraih berbagai penghargaan internasional itu tengah gundah. Pasalnya, kondisi hutan di Kalteng semakin terancam dan secara langsung mengganggu hidup satwa itu.

Birute juga gusar dengan semakin mudahnya orang mengantongi izin pembukaan hutan bagi perkebunan.  Jika hutan semakin banyak dibelah-belah. Artinya keturunan baru orang utan akan semakin langka. 

Oleh Algooth Putranto
Jaringan Berita Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • SENGGANG
    Film baru Madonna untuk Hari AIDS
  • SENGGANG
    Belajar fisika tanpa rumus marak
  • Dunia usaha perangi HIV/Aids
  • 'Nasib Nurdin Halid bergantung pada PSSI'