Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Opini
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 21/07/2008
Ketika resesi ekonomi global sudah di depan mata
Kondisi ekonomi global saat ini benar-benar mengkhawatirkan. Betapa tidak? Krisis global yang berlangsung sejak pertengahan tahun lalu yang diawali oleh krisis subprime mortgage di Amerika Serikat (AS) yang diikuti dengan lonjakan harga minyak mentah ini, ternyata kondisinya makin memburuk.
Harga minyak mentah dunia semakin menggila (sempat di level US$145 per barel) dan pasar keuangan global pada 15 Juli mengalami kerontokan massal akibat krisis keuangan di AS yang terus berlanjut.
Krisis subprime mortgage di AS tampaknya memang telah menimbulkan risiko sistemis yang tidak kecil. Risiko sistemik ini artinya, kegagalan yang terjadi pada subprime mortgage telah menimbulkan krisis, tidak hanya pada lembaga keuangan terkait, tetapi juga lembaga keuangan lainnya sehingga berdampak sistemis bagi sistem keuangan secara keseluruhan.
Beberapa hari yang lalu, Pemerintah AS telah mengumumkan rencananya untuk menyelamatkan dua perusahaan penyalur kredit pemilikan rumah (KPR) Fannie Mae dan Freddie Mac yang memiliki atau menjamin hampir separuh dari total kredit perumahan di AS. Akan tetapi, inisiatif ini dan langkah-langkah pemerintah AS lainnya gagal meyakinkan kalangan investor.
Banyak hal yang dikhawatirkan seputar perkembangan di AS, yaitu krisis pasar kredit, krisis pasar perumahan, ketakutan terjadi resesi, dan tingginya harga minyak, sehingga apa pun langkah yang diambil Pemerintah AS seolah tidak berarti sama sekali.
Terlebih lagi, pelaku pasar mendapatkan kabar bahwa perbankan di Asia juga memegang miliaran dolar AS surat berharga yang diterbitkan oleh Fannie Mae dan Freddie Mac.
Kekhawatiran pada perbankan di AS juga ditambah dengan Bank IndyMac di California yang diambil alih oleh bank federal karena kesulitan solvabilitas dan di ambang kebangkrutan.
Kebangkrutan IndyMac terjadi setelah kelompok bank besar lainnya, Wachovia, memperingatkan investor soal kemungkinan akan rugi sebesar US$2,8 miliar pada kuartal kedua karena kerugian pada surat berharga yang terkait dengan properti terus membesar. Bank besar seperti Lehman Brothers bahkan diisukan merugi miliaran dolar AS karena memiliki surat utang yang berhubungan dengan pasar KPR.
Kini telah ada kekhawatiran umum mengenai pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia. Dapat dikatakan bahwa faktor ekonomi AS merupakan 'biang keladi' terjadinya krisis ekonomi global ini.
Stadium resesi?
Berbagai kalangan menilai bahwa situasi krisis saat ini telah mengarah pada terjadinya resesi global. Setidaknya, situasi saat ini sudah seperti kondisi resesi global pada era 1970-an akibat kebijakan embargo minyak mentah oleh negara-negara di Timur Tengah kepada AS.
Ekonomi dunia saat ini memang belum masuk stadium resesi. Ini mengingat, ekonomi dunia pada 2008 diperkirakan masih dapat tumbuh sekitar 3,7%. Namun, apabila menggunakan ukuran yang ditetapkan IMF, ekonomi AS jelas sudah masuk dalam stadium resesi.
Pertumbuhan ekonomi AS tahun ini diproyeksinya hanya sekitar 1% (bahkan bisa lebih rendah lagi), sementara ukuran IMF menyebutkan angka 3% apabila sebuah perekonomian tidak disebut masuk stadium resesi.
Meski demikian, apabila tidak ada langkah yang signifikan untuk mengatasi situasi saat ini, bukan tidak mungkin ekonomi dunia pun akan masuk stadium resesi. Yang jelas, khususnya negara-negara maju (terutama AS) harus mengambil langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan ekonomi dunia saat ini.
AS, misalnya, jangan terkesan tanggung dalam membereskan sistem transaksi yang terjadi di pasar keuangan dan bursa komoditas mereka dari permainan spekulasi yang telah menyebabkan pelaku pasar bergerak liar. Banyak bukti yang mengarah bahwa tingginya harga minyak mentah dunia dan komoditas lainnya adalah buah dari aksi spekulasi dan manipulasi di pasar minyak mentah AS.
Hal ini antara lain dibuktikan oleh sejumlah temuan investigasi yang dilakukan oleh Badan Pengawas Bursa Komoditas (Commodity Futures Trading Commission/CFTC) AS belum lama ini. Bahkan, mantan Gubernur Bank Sentral AS, Alan Greenspan mengatakan bahwa sekitar US$10 dari setiap harga minyak yang tercatat (ketika harga minyak masih di level US$110-120 per barel) adalah karena ulah spekulan.
Otoritas AS tampaknya memang setengah hati membereskan masalah ini dan menuding bahwa pihak produsen minyak (terutama OPEC) yang tidak kooperatif untuk meningkatkan produksi minyak mentahnya.
Mungkin rezim pemerintahan AS saat ini (kubu Republik) memang telah diuntungkan dari situasi pasar minyak saat ini. Hal ini wajar, mengingat tingginya harga minyak saat ini ini justru menguntungkan para raksasa perminyakan AS (Exxon, Shell, Conoco, BP America, dan Chevron) yang menguasai ladang-ladang minyak di berbagai dunia (termasuk di Indonesia).
Perlu diketahui bahwa sejumlah pejabat pemerintah AS yang kini berkuasa adalah juga mantan eksekutif perminyakan, seperti Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice dan Wakil Presiden Dick Cheney. Bahkan, Presiden AS Goerge W. Bush juga dijuluki sebagai mantan Texas oilman. Bos-bos perusahaan minyak AS tersebut selama ini ditengarai berada di belakang Partai Republik.
Indonesia sesungguhnya lebih beruntung dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Afrika yang lebih menderita akibat krisis global saat ini. Namun demikian, industri dan rakyat kita sudah berkorban sangat besar atas situasi ini, yang semestinya dapat dihindari jika permainan spekulasi dan manipulasi di pasar keuangan dan pasar minyak di AS tidak terjadi.
Untuk mencegah berlanjutnya dampak krisis global saat ini, tampaknya tidak ada jalan lain kecuali kita harus membentengi diri agar krisis tersebut tidak berdampak lebih luas lagi.
Penulis pernah mengusulkan agar pemerintah memanfaatkan instrumen manajemen risiko berupa lindung nilai (hedging) atas harga minyak untuk menghindari kerugian yang lebih besar lagi akibat tingginya harga minyak mentah ini. Gagasan pemanfaatan hedging ini sesungguhnya bukan barang baru bagi pemerintah.
Namun sayang, responsnya masih minim sekali. Kini, harga minyak mentah sudah menjadi ancaman serius. Oleh karenanya, tidak ada salahnya apabila kita menempuh alternatif kebijakan lain, meskipun belum populer di kalangan mainstream para pengambil kebijakan.
Oleh Sunarsip
Ekonom Kepala The Indonesia Economic Intelligence
bisnis.com
Berita Lain
- Politik perempuan menuju Pemilu 2009
- Solusi konkret mengatasi krisis energi
- Menyimak seputar Perundingan WTO
- Kepastian hukum dan investasi
- Memaknai spiritualitas ibadah puasa