Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Opini
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 29/08/2008
Menuju Ramadan bertabur rahmat
Sebentar lagi, Ramadan kembali menghampiri umat Islam di seantero Nusantara. Bulan yang bertabur rahmat, maghfirah (pengampunan), dan pembebasan manusia dari api neraka ('itqun min al-nar).
Bulan yang demikian istimewa karena pada bulan itulah Allah SWT menurunkan Alquran dan memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk meraih 'malam mega bonus' yakni malam laitulqadar. Malam yang setara dengan seribu bulan. Pada Ramadan itu pula umat Islam diwajibkan melaksanakan puasa sebulan penuh.
Secara normatif-historis, kewajiban puasa ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan manusia. Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW mengemban misi profetiknya, puasa telah diwajibkan kepada kaum beragama. Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (QS.2:183).
Ayat tersebut juga menegaskan bahwa final goal ibadah puasa adalah pencapaian kualitas takwa pada diri orang yang berpuasa. Artinya, tujuan utama puasa bukanlah sekadar menahan lapar dan haus serta nafsu biologis, tetapi lebih dari itu, dalam rangka melahirkan manusia takwa yang dekat kepada Allah SWT, taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Namun, patut dicatat di sini, bahwa ketakwaan yang Allah SWT janjikan itu bukanlah sesuatu yang diberikan secara gratis terhadap semua orang yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari rahim Ramadan ini adalah manusia-manusia yang lolos dalam berbagai ujian yang berlangsung selama diklat sebulan penuh.
Tidak heran jika Nabi SAW pernah bersabda : "Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapat apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus belaka". Mereka yang berpuasa, tetapi tidak melakukan pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan kesempatan untuk menggapai taburan rahmah dan meraih kandungan hakiki puasa itu.
Lalu, upaya-upaya apa yang harus ditempuh agar puasa yang kita lakukan nanti benar-benar berkualitas dan bertabur rahmah?
Pertama, mempersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadan. Rasulullah SAW setiap menjelang Ramadan selalu mengumpulkan sahabatnya untuk kembali menjernihkan persepsi tentang bulan suci itu.
Ini sebagaimana terekam dalam sebuah hadis: "Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa, dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan Dia membanggakan kamu kepada para malaikat-Nya. Maka, tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini".
Persepsi yang benar terhadap Ramadan, jelas akan mendorong kita untuk tidak terjebak pada kesia-siaan. Jika kita tahu bahwa Ramadan merupakan bulan ampunan, kita pasti akan meminta ampunan sebanyak-banyaknya kepada Sang Maha Pengampun, dan jika kita tahu bahwa bulan ini bertabur rahmah, kita akan berlomba untuk merebutnya dengan penuh antusias.
Apabila pintu surga dibuka lebar-lebar pada bulan ini, kita pasti akan berlari kencang untuk memasukinya. Apabila pintu neraka telah ditutup, kita tidak akan mau mendekatinya sehingga dia menjadi menganga.
Kedua, membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai. Untuk menggapai taburan rahmah pada bulan Ramadan, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa itu, terutama menyangkut syarat sah dan rukun puasa, hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada saat puasa, serta amalan-amalan apa saja disunahkah selama bulan Ramadan.
Pengetahuan yang memadai tentang puasa akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kualitas ketakwaan sekaligus menjadikan puasa kita lebih berbobot dan berisi. Nabi SAW bersabda : "Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian mengetahui rambu-rambu-Nya dan memerhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya".
Ketiga, 'menghadirkan' Tuhan dalam diri kita. Inilah yang oleh Muhammad Asad disebut sebagai God-consciousness, yaitu 'kesadaran ketuhanan' dalam arti bahwa Tuhan itu Maha Hadir (omnipresent). Dengan 'menghadirkan' Tuhan dalam diri kita, maka diharapkan seluruh anggota tubuh kita ikut berpuasa.
Ini sebagaimana yang diilustrasikan dalam sebuah Hadis Qudsi : "Seorang hamba akan berupaya mendekatkan diri kepada-Ku, hingga Aku mencintainya, dan bila Aku mencintainya, menjadilah pendengaran-Ku yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan-Ku yang digunakannya untuk melihat, tangan-Ku yang digunakannya untuk bertindak, serta kaki-Ku yang digunakannya untuk berjalan".
Keempat, bahwa takwa sebagai final goal ibadah puasa tidak memiliki makna apa pun jika tidak ditransformasikan ke dalam kehidupan konkret sehari-hari.
Puasa tidak hanya bertujuan untuk membentuk manusia-manusia saleh secara individual, lebih dari itu, saleh secara sosial. Karena itu, agar puasa kita bertabur rahmah maka puasa yang kita lakukan harus benar-benar transformatif.
Koreksi diri
Puasa transformatif mendorong kita untuk selalu koreksi diri dan meningkatkan kualitas diri. Puasa transformatif tidak hanya membudayakan puasa seremonial-formal belaka yang biasa dihiasi dengan membeludaknya budaya konsumerisme mengiringi buka puasa dan menjelang Hari Raya.
Ini berarti puasa transformatif bukan hanya menciptakan pribadi yang tahan lapar dan haus di kala siang, tetapi tanpa daya untuk mengubah diri menjadi pribadi yang kukuh di saat Ramadan meninggalkan kita.
Andaikata puasa yang kita jalankan malah tidak membuat kita lebih baik dan lebih tekun dalam beribadah untuk meningkatkan kualitas pribadinya.
Bahkan, puasa kita tidak membuahkan sense of crisis dan sense of aware terhadap si miskin dan kaum papa, tak mampu menciptakan secercah kedamaian dan kerukunan di antara umat manusia, serta tak mampu membebaskan diri dari belenggu keserakahan dan kerakusan duniawi yang menyebabkan kita terjerumus ke dalam kubangan korupsi dan rezeki haram lainnya, maka sia-sialah puasa kita.
Demikianlah, semoga Ramadan kita kali ini benar-benar bertabur rahmah. Wallahu A'lam...
Oleh Maksun
(Dosen Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo Semarang)
bisnis.com