Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Opini
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Selasa, 02/09/2008
Memaknai spiritualitas ibadah puasa
Agama tidak hanya telah mencandra kehidupan umat manusia dalam sistem nilai dan tata ajaran yang luhur, tapi juga memberikan ruang bagi kreativitas manusia dalam mengapresiasi dan memaknai piwulang-nya. Termasuk dalam asumsi dan pandangan ini, pelaksanaan ibadah puasa pada Ramadan, dengan memekarkan maknanya dalam konteks kehidupan dewasa ini, kian kerontang rohani dan gersang spiritual.
Dalam ibadah puasa Ramadan terkandung 'ibrah atau moral lesson, yakni pelajaran dan peringatan agar menjadi inspirasi dan peneguh spirit bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Ibadah puasa dalam Islam, kata Nurcholish Madjid (1997), terutama sebagai disiplin spiritual, disiplin moral, nilai sosial, dan nilai fisik untuk kesehatan. Jadi selalu ada relasi yang terbangun antara kewajiban beribadah itu dan kehidupan sekarang agar bermakna untuk menuju alam kelak yang baka.
Perintah ibadah puasa Ramadan bagi orang-orang beriman bertujuan agar menjadi orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqarah/2: 183). Takwa sesungguhnya merupakan jalan spiritual yang dibentangkan Allah untuk ditapaki kaum beriman.
Dalam konteks ini, hakikat ibadah puasa adalah pengendalian diri dan pendakian tangga spiritual untuk berada sedekat-dekatnya dengan Allah dan tetap tidak menjaga jarak dengan problem dan kehidupan umat manusia. Makna puasa inilah yang juga memberikan dorongan moril bagi kita untuk menata kehidupan yang mempunyai visi dan sekaligus basis pijakan yang kuat.
Visi dan landasan tersebut dibangun dengan daya rohaniah yang prima dan mencerminkan kecerdasan spiritual (SQ), seperti halnya yang dimiliki para nabi dan rasul. Bisa dikatakan SQ yang dimiliki manusia-manusia pinilih itu selalu terjaga karena kesalehan dan jaminan Allah, dan kita selama Ramadan ini berupaya meneladaninya.
Daya kecerdasan yang berdimensi vertikal dan horizontal ini melampaui kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), sehingga tugas berat kenabian bisa ditunaikan dengan rekam jejak yang sangat baik dan berkesan.
Sebagai misal, sejarah dan perjuangan Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya tempo doeloe jelas tidak hanya mengandalkan modal kecerdasan pikiran dan solidaritas sosial. Namun, juga keimanan yang istiqamah, komitmen kemanusiaan dengan segala konsekuensinya, dan keyakinan yang sangat kuat akan janji Allah menjadi modal perjuangan yang tidak pernah sirna. Keyakinan penuh dan kekuatan tangguh seperti ini menjadi contoh sejarah manifestasi modal spiritual (spiritual capital/SC) dalam kehidupan umat manusia.
Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall (2005), SC adalah makna, tujuan, dan pandangan yang kita miliki bersama mengenai hal yang paling berarti dalam hidup dan bagaimana ini semua diterapkan dalam kehidupan serta strategi-strategi perilaku kita.
Kecakapan spiritual
SC adalah modal yang ditingkatkan dengan memanfaatkan sumber-sumber daya dalam jiwa manusia. Dalam ungkapan yang lebih padat, SC adalah khazanah pengetahuan dan kecakapan spiritual yang tersedia bagi seseorang atau suatu budaya.
Dalam konteks ibadah puasa Ramadan, tampak bahwa spiritualitas yang bertumpu pada iman atau tauhid menjadi simpul ikatan yang menjalin kebersamaan, solidaritas sosial, dan empati kemanusiaan. Khazanah makna dan muatan nilai kehidupan ini merupakan modal spiritual yang efektif dan fungsional.
Modal spiritual tersebut dibangun dari locus internal, yang selalu terpaut dengan rasa-sikap-tindakan akan kemahaberadaan (omnipresent) dan kemahakuasaan (omnipotent) Sang Khalik, yang memperkaya kesadaran, keyakinan, dan kepercayaan diri untuk berprestasi dan berlomba dalam amal saleh yang didedikasikan bagi kemajuan hidup serta peradaban umat manusia.
Spiritual capital yang diperkaya dan dimekarkan pada Ramadan ini menegaskan bahwa keimanan dan kesalehan seseorang tidak boleh bersifat individualistis dan egoistis atau spiritualitas yang tidak membumi dan tidak menyejarah. Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada umatnya untuk melabuhkan iman dalam sejarah kemanusiaan yang memberikan rahmat bagi semua dan berkah untuk sesama.
Berkaitan dengan konteks kehidupan bangsa kita dewasa ini, maka spiritual capital yang merujuk pada otentisitas iman dan empati kemanusiaan itu perlu mendapat perhatian yang saksama.
Tidak bisa dimungkiri bahwa kehidupan bangsa di Indonesia dewasa ini masih sering jauh dari kesantunan dan keadaban, baik dalam ranah sosial, politik, budaya, maupun ekonomi. Bangkit dari krisis multidimensi juga tidak cukup adequate dengan mengandalkan kecerdasan intelektual dan modal sosial semata.
Dalam hal ini, bisa dipahami bahwa ibadah puasa pada dasarnya menunjukkan simbol perjalanan dan perjuangan hidup untuk terus mencapai derajat yang lebih tinggi dan maqam yang terpuji. Pencapaian maqam spiritual ini bukan perkara gampang dan ringan, tapi sulit dan berat, karena bertahap ke atas. Hal ini oleh Alquran disebut sebagai al-'aqabah, jalan yang mendaki lagi sukar (QS Al-Balad/90: 11-18).
Jangan lupa bahwa capaian usaha dalam mendaki itu bukan untuk diri kita sendiri, tapi harus dimanifestasikan juga dalam kehidupan sosial antarsesama manusia. Hal itu karena, sebagai bagian dari spiritual capital itu, semuanya hanya akan bermakna dan memberikan hikmah kehidupan jika khazanah pengetahuan dan kekayaan spiritual itu dimanfaatkan untuk berbagi dengan sesama.
Dalam konteks ini, hasil pendakian spiritual perlu ditransformasikan menjadi nilai dan sistem yang fungsional dan bermakna dalam kehidupan yang maslahat.
Dalam perspektif spiritual, kita mentransformasikan elan vital, hikmah, dan hakikat ibadah puasa Ramadan, sehingga menyadarkan kita kembali akan kewajiban dan tugas keberadaan manusia di dunia agar senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan spiritual.
Melalui langkah itu pula, kita sekaligus berupaya menginternalisasi semangat keagamaan dan pencerahan spiritual serta mengaktualisasinya dalam tindakan dan kebijakan.
Di tengah kompleksitas persoalan di negeri yang permisif dan korup, dengan sikap dan pandangan hidup masyarakat yang lebih suka mementingkan diri sendiri serta perilaku elite dan penguasa yang tidak peka terhadap nasib penderitaan rakyat ini, tampaknya upaya membangun spiritual capital tersebut menjadi sangat mendesak.
Semoga pelaksanaan ibadah puasa Ramadan tahun ini membangkitkan kembali kesadaran semua agar tergerak mendaki dan berbagi modal spiritual guna terwujudnya kehidupan yang taat pada firman-Nya dan setia pada sabda rasul-Nya.
Oleh Nur Faizah
Mahasiswi Kajian Timur Tengah Pascasarjana UGM
bisnis.com
Berita Lain
- Masih perlukah buyback?
- Double taxation hambat holding BUMN
- Voting Lapindo di Cape Town
- Quo vadis BI?
- Entrepreneurial di daerah tertinggal