Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Otomotif
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 28/08/2008
Penjualan ban mobil hanya tumbuh 2,6%
JAKARTA: Penjualan ban kendaraan roda empat pada Januari-Juli hanya naik 2,6% atau tidak sebesar lonjakan permintaan mobil di pasar mobil domestik yang pada periode ini pertumbuhan hampir 50%.
Berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) yang diperoleh Bisnis, total penjualan ban buatan 12 produsen ban dalam negeri tercatat hanya 25,8 juta unit, sementar pada periode yang sama tahun lalu hanya 25,1 juta unit.
Penjualan mobil sepanjang Januari-Juli tercatat 353.501 unit atau melonjak sebesar 49,97% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya 235.703 unit.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane menjelaskan terjadinya kesenjangan antara realisasi penjualan ban mobil dan pasar kendaraan roda empat ini karena mayoritas produksi ban dalam negeri terserap oleh pasar ekspor. Pada saat yang sama, lanjutnya, permintaan dari luar negeri selama tujuh bulan pertama tahun ini mulai tertekan.
Data APBI menunjukkan pasar ekspor masih menjadi penyumbang terbesar dengan penjualan sebanyak 18 juta unit atau 67,43% dari total penjualan ban buatan Indonesia. Namun, pada Januari-Juli, permintaan dari pasar luar negeri ini terkoreksi sekitar 5,64% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Aziz, menurunnya permintaan dari luar negeri ini disebabkan oleh lesunya pasar otomotif di negara-negara tujuan utama ekspor yaitu, Jepang, Eropa, dan Amerika, sebagai dampak dari resesi ekonomi global yang terjadi.
"Krisis subprime mortgage di AS yang menyebabkan krisis ekonomi global, ikut memengaruhi permintaan ekspor ban buatan lokal," katanya.
Dia mengatakan penurunan ini perlu diwaspadai karena sampai sekarang pasar ekspor masih menjadi pilar utama penjualan ban nasional karena volume permintaan pasar domestik masih belum terlalu besar.
Untuk mengerem laju penurunan ekspor ini, lanjutnya, produsen ban lokal akan mulai mengoptimalkan upaya penetrasi ke pasar ekspor terutama negara-negara di Timur Tengah.
Secara spesifik, di dalam negeri, penjualan ke pabrikan mobil atau segmen OEM (original equipment for manufacturer) terlihat adanya peningkatan yang seiring dengan lonjakan yang terjadi di pasar kendaraan roda empat.
Pada tujuh bulan pertama tahun ini, tercatat 1,99 juta unit ban terjual di segmen OEM atau melambung 59,46% dibandingkan dengan Januari-Juli 2007. "Industri otomotif merupakan pasar potensial yang menentukan tinggi rendahnya penjualan ban di segmen OEM," ujarnya.
Segmen ban pengganti atau replacement juga mencatat pertumbuhan yang juga sangat tinggi yaitu 5,7 juta unit atau melejit sekitar 21% dibandingkan dengan tujuh bulan pertama tahun lalu, 4,7 juta unit.
Populasi mobil yang meningkat dari tahun ke tahun, jelasnya, membuat penjualan di segmen ban pengganti juga terdongkrak karena frekuensi pemilik kendaraan untuk mengganti ban juga bertambah.
Periode kritis
Aziz mengkhawatirkan kendati permintaan di dalam negeri pada Januari-Juli naik cukup signifikan, memasuki paruh kedua tahun ini, kondisi akan berubah. Industri ban akan memasuki periode kritis sebagai dampak lanjutan kenaikan harga bahan baku dan harga BBM bersubsidi.
Salah satu hambatan yang dikhawatirkan akan menekan permintaan di pasar domestik adalah harga jual yang semakin mahal sebagai dampak dari kenaikan harga bahan baku. "Walaupun begitu, kami yakin penjualan tetap akan meningkat sedikit." Tahun ini, APBI menargetkan dapat menjual sebanyak 43,3 juta unit ban.
Dia menambahkan selain kenaikan harga, pengusaha di industri ban banyak mengeluhkan masih beredarnya ban ilegal di Medan, Jambi, Pekanbaru, dan Bandar Lampung. Kondisi ini membuat pasar ban terdistorsi terutama di segmen ban pengganti.
"Minggu ini, sebanyak empat kontainer ban bermerek MRS asal India masuk melalui Kuala Tungkal, Jambi," ungkapnya.
Aziz menduga ban untuk truk itu masuk secara ilegal, karena ukurannya yang tidak mengikuti SNI Wajib, di samping harganya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan produk lokal.
Harga MRS adalah Rp2,1 juta per unit termasuk ban dalam, sambungnya, sedangkan produk lokal untuk ban sejenis adalah Rp2,5 juta per unit tanpa ban dalam.
Dia mempertanyakan bagaimana harga ban asal India bisa jauh lebih murah pada saat harga bahan baku tinggi. "Pemerintah harus segera turun tangan." (22) (redaksi@bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- TRANSMISI
ABT dorong penjualan aksesori - Segmen sedan niaga masih bergairah
- TRANSMISI
Pasar mobil di Kanada merosot 10,17% - TRANSMISI
Toyota & Nissan pangkas produksi - Pasar mobil bekas merosot 30%