Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Otomotif
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 05/09/2008
Krisis politik Thailand belum ganggu pasokan mobil
JAKARTA: Kalangan pelaku industri otomotif nasional mengharapkan krisis politik Thailand tidak akan menganggu pasokan mobil impor dari Negari Gajah Putih itu, sehingga penjualan kendaraan bermotor di pasar domestik tetap bergairah.
Sejumlah agen tunggal pemegang merek (ATPM) di Tanah Air saat ini terus mencermati situasi politik dan ekonomi di Thailand. Perusahaan yang mendatangkan mobil dalam kondisi utuh (completely built-up) dari Negeri Pagoda ini a.l. PT Honda Prospect Motor (HPM), PT Toyota Astra Motor (TAM), PT General Motors Auto World Indonesia (GMAWI), dan PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors.
Mukiat Sutikno, Managing Director PT GMAWI, mengatakan hingga sejauh ini aksi kekerasan di Thailand belum memengaruhi pengiriman beberapa model yang diimpor dari negara tersebut.
Dari pasar Thailand, GMAWI mengimpor empat model yakni Captiva, Estate, Kalos dan Optra. Dari total penjualan GMAWI hingga Agustus 2008, sekitar 90% di antaranya dipasok dari Thailand.
"Suplai mereka masih bagus, memang sempat ada re-route pengiriman dari sisi pelabuhan karena overload. Tapi kami cukup positif, mereka [Pemerintah Thailand] akan mencari jalan terbaik. Pemerintah bisa meredam atau mencari solusi," katanya kepada Bisnis, kemarin.
Jonfis Fandy, Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT HPM, menyatakan selain memasok pasar mobil Indonesia, Thailand juga harus memasok permintaan mobil dari negara lain di Asia seperti Singapura, Australia, dan Jepang.
"Kalau mereka tidak bisa ekspor, itu jadi problem besar, tidak hanya bagi Indonesia tapi juga negara lain. Kami mendatangkan sekitar 10.000 unit per tahun dari Thailand," ungkapnya.
Beberapa model yang diimpor HPM dari pabrikan di Thailand yakni Honda Civic, Honda Accord, dan Honda New City dengan volume penjualan di pasar domestik mencapai 5.617 unit hingga Juli 2008.
Presiden Direktur PT Indomobil Suzuki International Soebronto Laras memperkirakan krisis politik di Thailand tidak akan mengganggu sektor industri termasuk otomotif. Hal ini terkait dengan cara rakyat negara ini dalam menyikapi perbedaan di antara mereka.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) A. Aziz Pane menilai dengan berbekal infrastruktur dan industri pendukung yang kuat dan terintegrasi, sektor otomotif di Negeri Gajah Putih ini akan relatif lebih stabil dibandingkan jika guncangan politik sejenis terjadi di Indonesia.
"Contohnya industri ban. Di sana cukup kuat. Peraturannya proinvestasi, bahan baku karet juga melimpah. Bedanya, masyarakat kita seringkali 'kampungan' dalam menyikapi perbedaan. Di Thailand itu tidak [ada]." (Ahmad Muhibbuddin)
Oleh Siti Munawaroh
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- AKSELERASI
Nissan butuh dana talangan - Penjualan mobil nasional turun lagi
- TRANSMISI
Resesi pukul pasar otomotif Italia - TRANSMISI
Hyundai & Kia pangkas produksi - Penjualan sepeda motor turun 4,4%