Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Otomotif
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 08/10/2008
Permintaan motor September tertekan
JAKARTA: Volume penjualan kendaraan roda dua pada September terkoreksi sebesar 9,94% dibandingkan dengan bulan sebelumnya karena jumlah hari kerja yang pendek.
Berdasarkan data Asosiasi Industri SepedaMotor Indonesia (AISI) yang diperoleh Bisnis, penjualan kendaraan roda dua pada September hanya 557.423 unit, sedangkan bulan sebelumnya tercatat sebanyak 618.965 unit yang merupakan angka penjualan bulanan tertingi tahun ini
PT Astra Honda Motor (AHM) masih memimpin pasar motor nasional pada September, kendati penjualannya terkoreksi sebesar 12,55% menjadi 263.094 unit, dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 300.860 unit.
PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) yang sempat merebut mahkota pasar motor nasional dari AHM tahun lalu, berada di urutan kedua.
Penjualannya turun lebih kecil dibandingkan Honda, yaitu hanya 7,3% menjadi 212.012 unit.
Penurunan penjualan juga dialami oleh pabrikan motor Jepang lain, yaitu Suzuki dan Kawasaki yang masing-masing hanya menjual 75.117 unit dan 4.200 unit. Produsen motor lokal PT Kanzen Motor Indonesia diperkirakan berhasil membukukan kenaikan penjualan yaitu sekitar 500 unit.
Ketua Umum AISI Gunadi Sindhuwinata mengatakan faktor utama turunnya penjualan yang dialami seluruh pabrikan sepeda motor pada bulan lalu adalah karena hari libur yang lebih banyak dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Kondisi ini membuat proses produksi terhambat.
"Aktivitas di pabrik berkurang karena hari libur yang lebih banyak, untuk menyambut Hari Raya Idulfitri," katanya kepada Bisnis, kemarin.
Gunadi meyakini penurunan penjualan pada bulan lalu ini bukan karena permintaan konsumen yang melemah. Permintaan diyakini tetap ada karena keberadaan motor sebagai sarana transportasi yang murah dan belum tersedianya sarana transportasi umum yang layak.
Gunadi memperkirakan pada Oktober ini pasar motor nasional akan kembali tertekan yang juga dipicu oleh besarnya tekanan faktor eksternal. Selain adanya tambahan hari libur di awal bulan, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 9,5% akan menyulitkan dari sisi pembiayaan.
Dia menilai kenaikan suku bunga acuan akan berdampak terhadap pasar, karena saat ini pembelian sepeda motor lewat jalur kredit mencapai 80% dari total penjualan. Kenaikan BI Rate, lanjutnya, akan berpengaruh secara psikologis terhadap konsumen. "Secara psikologis akan memengaruhi karena bisa terjadi inflasi dan membuat daya beli konsumen turun, sehingga memberatkan mereka dalam membayar cicilan," jelasnya.
Ancaman likuiditas
Selain itu, Gunadi juga mengkhawatirkan adanya ancaman likuiditas seiring dengan kenaikan suku bunga acuan. Apabila uang yang beredar cukup sedikit, lanjutnya, maka jelas akan mengganggu pasar karena daya beli masyarakat pun akan melemah.
Kendati dibayang-bayangi tekanan eksternal yang dapat mengganggu pasar, Gunadi masih meyakini pasar sepeda motor akan menuai penjualan sebanyak 5,8 juta unit di akhir tahun.
Secara akumulatif sepanjang Januari-September, pasar sepeda motor tercatat sebanyak 4,84 juta unit atau melonjak 42,54% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya hanya 3,04 juta unit.
Sigit Kumala, General Manajer Pemasaran Divisi Sepeda Motor PT Astra Honda Motor, mengatakan penjualan yang melonjak di tahun ini disebabkan oleh dua faktor utama yakni kebutuhan akan sarana transportasi dan kemudahan untuk memiliki sepeda motor. (22) (redaksi@bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- AKSELERASI
Nissan butuh dana talangan - Penjualan mobil nasional turun lagi
- TRANSMISI
Resesi pukul pasar otomotif Italia - TRANSMISI
Hyundai & Kia pangkas produksi - Penjualan sepeda motor turun 4,4%