Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 17/05/2008
'Hidupkan lagi inti-plasma pertanian'
JAKARTA: Pemerintah diminta untuk menghidupkan kembali pola kerja sama inti-plasma di bidang pertanian guna mengatasi krisis pangan yang diperkirakan berlanjut.
Ketua Dewan Penasihat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Siswono Yudo Husodo mengatakan salah satu penyebab dari merosotnya produksi pangan nasional sekarang ini karena mengendurnya penerapan skema inti-plasa di bidang pertanian.
Padahal pola kerja sama antara petani selaku plasma dan perusahaan besar sebagai inti pada masa lalu terbukti dapat meningkatkan produksi pertanian. "Olah karena itu, pemerintah perlu menghidupkan kembali pola kerja sama ini. Apalagi ancaman kekurangan pangan diperkirakan berlanjut," ujarnya kemarin.
Mantan Menteri Perumahan Rakyat itu menyebutkan pendekatan inti-plasma cocok untuk meningkatkan produksi jagung, kedelai, gula tebu dan tanaman tropis lainnya.
Penerapan kembali konsep inti-plasama di bidang pertanian, lanjutnya, tidak saja bisa menjadikan Indonesia sebagai negara pemasok pangan tropis ke pasar dunia, tetapi juga membuka lapangan kerja yang luas di bidang pertanian.
Indonesia, menurutnya, harus memanfaatkan peningkatan kebutuhan jagung, tebu, CPO (minyak sawit mentah) dan produk pertanian tropis di dunia dengan menggenjot produksi pertanian.
Mantan Menteri Transmigrasi dan PPH itu yakin harga pangan akan terus naik karena seiring dengan meningkatnya kebutuhan biofuel. "Pemerintah harus mengantisipasi fenomena baru ini dengan cermat."
Siswono menilai Indonesia memiliki potensi amat besar untuk memasok pangan dunia karena berada di daerah tropis. "20% daerah tropis dunia ada di Indonesia. Sisanya di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia."
Indonesia, lanjutnya, berpotensi menjadi negara pengekspor utama produk-produk pertanian tropis seperti beras, kopi, cokelat, jambu mete, teh, minyak atsiri, buah-buahan tropis seperti durian, manggis, nanas, pisang, rambutan, kelengkeng dan duku.
"Saingan kita hanya Brazil dan Kolombia di Amerika Latin. Untuk wilayah khatulistiwa di Afrika sebagian besar melalui gurun pasir. Jadi dari segi geografis kita lebih untung," paparnya.
Oleh Ismail Fahmi
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- KUOTA
China buka impor salak Indonesia - KUOTA
Harga minyak goreng curah turun - Subsidi kedelai baru terealisasi 23%
- Defisit perdagangan masih mengancam
- Posko pemantauan harga dibentuk