Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 18/07/2008

Industri kopi bisa masuk AEKI

MEDAN: Asosiasi Ekspotir Kopi Indonesia (AEKI) akan melakukan rapat umum luar biasa dengan agenda tunggal mengubah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga untuk memasukkan industri kopi sebagai anggota.

Ketua DPD AEKI Sumut Suyanto Husen membenarkan anggota DPD AEKI seluruh Indonesia akan melakukan rapat umum luar biasa dengan agenda menambah nama asosiasi menjadi Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEIKI) untuk memperkuat ekspor hasil olahan kopi nasional yang selama ini sudah mulai berjalan.

"Asosiasi ingin membesarkan porsi ekspor kopi bubuk untuk mendapatkan nilai tambah. Karena itu, seluruh pabrik pengolahan kopi akan bisa bergabung dengan AEIKI," ujarnya menjawab Bisnis di Medan kemarin.

Untuk itu, katanya, anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) AEKI harus diubah melalui sidang luar biasa yang diagendakan 21 Juli nanti.

Dia mengakui selama ini sudah ada beberapa industri kopi yang mengekspor bubuk kopi menjadi anggota AEKI seperti PT Sari Incofood Medan dengan merek Indocafe dan Kapal Api.

"Kalau AD/ART AEKI sudah diubah dan industri pengolahan kopi masuk anggota, maka pembinaan akan dilakukan meningkatkan nilai tambah kopi tidak hanya sekadar mengekspor biji, tapi memperbesar volume ekspor kopi olahan."

Dia mengakui selama ini total volume ekspor biji kopi nasional setiap tahun hanya 450.000 ton dan konsumsi dalam negeri sekitar 150.000 ton per tahun. Melihat kecilnya konsumsi lokal, lanjutnya, maka ekspor harus ditingkatkan dengan mengekspor kopi bubuk, bukan lagi sekedar mengekspor biji kopi.

"Arah perubahan organisasi AEKI adalah membina industri pengolahan kopi agar mampu menembus pasar ekspor," tuturnya.

Tak bermanfaat

Sementara itu, seorang eksportir bubuk kopi di Medan mengatakan perubahan AD/ ART AEKI dengan menambah industri pengolahan kopi sebagai alasan untuk menambah anggota tidak akan banyak manfaatnya karena selama ini pun peranan AEKI dipertanyakan oleh sejumlah anggota, terutama dari Lampung dan Sumut.

Sesungguhnya, katanya, yang harus diperbaiki pengurus AEKI adalah mengeluarkan eksportir kopi yang tidak aktif dari organisasi agar tidak menjadi benalu di tubuh organisasi.

"Banyak anggota AEKI sudah tidak melakukan ekspor kopi lagi, tapi suara mereka sangat dominan dalam setiap pengambilan keputusan di tubuh AEKI baik di daerah maupun di pusat."

Oleh Master Sihotang
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Pemerintah akan atur tata niaga bijih timah
  • Bulog siap ekspor beras 2009
  • Ekspor nonmigas turun 1,2%
  • Apkasindo bantah sawit RI kandung bahan kimia berbahaya