Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 19/07/2008

'Tak ada insentif khusus bagi investor Tionghoa'

JAKARTA: Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu tidak akan memberikan insentif khusus kepada 80 pengusaha Tionghoa yang berminat melakukan hubungan dagang dan investasi di Indonesia.

Mendag mengatakan semua insentif untuk mempermudah investasi dan kegiatan perdagangan telah diatur dalam perundang-undangan tentang perpajakan dan investasi.

"Sudah ada sistem yang mempermudah kegiatan investasi dan perdagangan," ujarnya pada saat acara Konvensi Bisnis Internasional Pengusaha Indonesia dan Tionghoa di Jakarta, kemarin.

Para pengusaha Tionghoa yang berasal dari Mongolia, Spanyol, Inggris, Australia, Austria, RRC, dan AS tergabung dalam organisasi World Eminence Chinese Business Association (WECA).

Dalam konvensi itu, para pengusaha Tionghoa menginginkan penjelasan dari pemerintah mengenai kondisi perekonomian Indonesia.

Mendag menyakinkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih luas pasarnya dan masih banyak fasilitas lainnya yang akan mempermudah investasi dan usaha.

Indonesia akan menurunkan pajak penghasilan (PPh) menjadi 28% pada 2009 dan turun lagi pada 2010 menjadi 25%. Saat ini, PPh 30%. Untuk ekspor-impor dari dan ke kawasan perdagangan bebas (free trade zone), seperti Batam, Bintan, dan Karimun, tidak akan dikenai bea masuk, dan ada pembebasan pajak pertambahan nilai.

Mari mengatakan Indonesia memiliki prospek lebih baik pada pertumbuhan ekspor dengan indikasi pertumbuhannya meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia, katanya, dipandang positif oleh dunia luar karena ekonomi makro stabil dan iklim investasi juga lebih mudah dan terbuka.

Selain itu, Indonesia memiliki potensi pasar besar dan memiliki kekayaan sumber bahan mentah untuk diproduksi. Untuk meyakinkan para pengusaha Tionghoa, kata Mendag, pemerintah akan meningkatkan pelayanan investasi baik di pusat maupun di daerah.

Konvensi Bisnis Internasional Pengusaha Indonesia dan Tionghoa akan diikuti oleh 80 pengusaha dari Tionghoa yang akan berinvestasi dalam bidang bisnis, mineral dan energi, properti, perdagangan, manufaktur, dan Keuangan.

Dalam konvensi ini akan diikuti oleh 300 pengusaha dari Indonesia, 80 pengusaha dari Tionghoa, dan 12 perusahaan dari berbagai negara termasuk beberapa perusahaan besar seperti Group Siwang, Sening, Apple, dan China Petrol.

Penjelasan langsung


Ketua Delegasi China Lu Jung Ding mengatakan konvensi tersebut merupakan kegiatan bisnis yang akan digunakan pengusaha China untuk mendengar langsung penjelasan dari pemerintah Indonesia serta mendapatkan informasi peluang di Indonesia.

"Saya berharap ini tidak sekadar wacana, tetapi dapat dilaksanakan dan berkesinambungan karena murni perdagangan antara pengusaha Indonesia dan China," ujarnya pada saat konferensi pers Konvensi Bisnis Internasional Indonesia-Tionghoa, kemarin.

Menurut dia, lima pengusaha akan masuk bidang perdagangan, 27 perusahaan di bidang mineral dan energi, di bidang properti terdiri dari 20 perusahaan, 22 perusahaan di bidang manufaktur, dan di bidang keuangan terdiri dari lima perusahaan.

Tujuan konvensi ini, katanya, untuk meyakinkan kepada pengusaha bahwa kondisi perekonomian Indonesia dalam keadaan baik serta memberikan informasi tentang Indonesia, karena para pengusaha belum mengetahui keadaan Indonesia. (19) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • KUOTA
    Mendag lobi dagang ke China
  • Indonesia desak WTO dilanjutkan
  • Penurunan PE dongkrak ekspor sawit mentah
  • Ekspor kayu ke UE akan naik 15%