Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 21/07/2008

'Penurunan PE dongkrak harga tandan buah sawit'

JAKARTA: Penurunan pungutan ekspor (PE) kelapa sawit dan harga patokan ekspor (HPE) yang terjadi pada Agustus akan meringankan beban eksportir serta menyebabkan harga tandan buah segar di tingkat petani sedikit mengalami kenaikan.

Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad mengatakan penurunan pungutan ekspor menjadi 15% jelas akan sedikit meningkatkan harga sawit di tingkat petani, karena pungutan yang dibebankan eksportir kepada petani juga berkurang.

"Sebenarnya tetap saja, menjadi beban petani sawit, tetapi daripada naik lebih baik turun [pungutan ekspor sawit]," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Pungutan Ekspor kelapa sawit untuk Agustus kemungkinan turun menjadi 15% dari pungutan yang berlaku bulan ini 20% menyusul rata-rata harga komoditas itu selama Juli di Rotterdam sebesar US$1.183 per ton.

Sementara itu, dalam rapat penetapan harga patokan ekspor sawit juga diputuskan harga patokan untuk Agustus ditetapkan US$1.106 ton turun sebesar US$38 per ton dari bulan sebelumnya US$1.144 per ton.

Dia juga mendesak agar pemerintah segera menetapkan revisi pungutan ekspor tersebut, agar para eksportir dan petani mendapat kepastian.

Ketua Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AMMI) Adiwisoko Kasman memperkirakan revisi itu dilakukan dengan penyempitan jarak (range), yakni selama ini jaraknya US$100 menjadi US$50. jadi, setiap kenaikan US$50, maka pungutan ekspornya naik 2,5%.Peraturan sebelumnya, jika naik US$100, pungutan naik 5%.

Dalam rapat penetapan harga patokan ekspor kelapa sawit pada akhir pekan kemarin, untuk Agustus telah ditetapkan harga rata-rata kelapa sawit (crude palm oil/CPO) di Rotterdam sebesar US1.183 sehingga pungutan ekspor sebesar 15%.

Peraturan Menteri Keuangan No. 72/PMK.011/2008 tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor, jika rata-rata harga sawit US$1.100-US$1.200 per ton, pungutan ekspor 15%.

Pungutan menjadi 20% jika rata-rata harga sawit US$1.200-US$1.300 per ton, sedangkan pungutan ekspor tertinggi 25% apabila harga komoditas tersebut di atas US$1.300 per ton.

Harga naik

Menurut Adiwisoko penurunan pungutan itu diperkirakan menyebabkan kenaikan harga minyak goreng dalam negeri, tetapi kenaikkannya tidak terlalu besar.

Direktur Ekspor Komoditi Pertanian, Departemen Perdagangan Hartoyo Agus Tjahyono mengatakan penetapan pungutan ekspor sawit untuk Agustus masih menggunakan Peraturan Menteri Keuangan No. 72/PMK.011/2008.

Agus tidak dapat menyebutkan besaran pungutan untuk bulan depan, karena harus menunggu Permendag tentang pungutan ekspor sawit untuk Agustus.

"Penghitungan pungutan itu sesuai dengan Permenkeu dan rata-rata harga CPO di Rotterdam selama Juli," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.

Saat ini pemerintah melakukan revisi pungutan ekspor yang berlaku progresif setelah mendapat keluhan dari para eksportir dan petani sawit.

Adiwisoko mengatakan revisi pungutan ekspor akan lebih meringankan para eksportir dan petani sawit, karena jarak (range) nya dipersempit.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan revisi pungutan itu prinsipnya masih tetap progresif, tetapi ada perubahan pada jarak (range) dan menjadi dipersempit dan banyak titik.

Menurut Mendag, revisi itu masih dalam proses, sehingga pungutan ekspor untuk Agustus masih menggunakan peraturan yang berlaku selama ini. (19)

Binsis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Kerja sama Asean, Australia & Selandia Baru terganjal soal BM
  • Tahun ini Indonesia swasembada beras
  • Depdag: Harga penyangga gula masih wajar
  • Kuota ekspor rotan dievaluasi