Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 16/08/2008

Tahun ini Indonesia swasembada beras

JAKARTA: Tahun ini Indonesia diperkirakan kembali mencapai swasembada beras, karena panen yang baik dibandingkan dengan negara lain.

"InsyaAllah, pada tahun ini, kita kembali mencapai swasembada beras," ungkap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kenegaraan di depan Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan tahun ini adalah tahun tersulit dan sarat dengan tantangan, karena ekonomi dunia terancam resesi. "Namun, kita patut bersyukur karena kondisi panen negara kita relatif lebih baik dari banyak negara lain," tuturnya.

Presiden mengatakan sejak masa Orde Baru, produksi beras nasional saat ini lebih tinggi daripada tingkat konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, imbuh Presiden, harga beras di dalam negeri juga lebih rendah daripada harga beras internasional.

Kepala Negara mengatakan surplus beras nasional harus dipertahankan, Dari satu juta ton saat ini, untuk ke depannya bisa ditingkatkan menjadi tiga juta ton untuk memberi peluang kemungkinan melakukan ekspor beras.

Menurut dia, stok beras yang kuat akan menjamin ketahanan pangan nasional sekaligus stabilitas harga beras pada tingkatan yang terjangkau oleh masyarakat luas.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengakui pemerintah telah menargetkan produksi beras pada 2009 mencapai 40 juta ton selain juga menargetkan stok beras nasional menjadi tiga juta ton pada tahun mendatang.

Swasembada sebelumnya

Swasembada beras Indonesia, sebelumnya terjadi pada 1985  dengan produksi 26,54 juta ton surplus 371.000 ton), 1986 sebanyak 27,01 juta ton (213.000 ton) dan pada 1987 sekitar 27,25 juta ton (minus 64.000 ton 64).

Pada 2004, produksi beras nasional mencapai 54,09 juta ton gabah kering giling, setara 33 juta ton beras (konversi 0,632), (saat itu) merupakan produksi beras tertinggi selama Republik ini berdiri dengan konsumsi nasional 30,4 juta ton, surplus 2,6 juta ton.

Pada 2004, swasembada beras mengulangi keberhasilan 1984. Pada 1984 kita mencapai swasembada melalui kerja keras puluhan tahun dengan pembangunan irigasi, pabrik pupuk, Bimas, KUT, KUD, dan lain-lain. Sementara pencapaian swasembada beras 2004 selain oleh kerja keras juga membaiknya harga beras di pasar beras internasional dari US$165/ton pada 1998 menjadi US$270/ton pada 2005.

Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo  mengatakan pemerintah harus mampu menjaga stabilitas harga beras dan gabah di dalam negeri yang menguntungkan petani untuk memacu produksi bahan pangan lebih tinggi.

Siswono menegaskan produksi beras dalam negeri sudah menunjukkan peningkatan dalam satu tahun terakhir dengan proyeksi surplus akhir 2008 ini sekitar 1,5 juta ton. "Produksi sekarang sudah sangat bagus. Kita akan ada surplus 2 juta-3 juta ton. Pemerintah harus bisa menjaga harga beras tetap stabil. Kalau petani untung, dia bisa naikkan produksi lebih banyak, " katanya kemarin.

Dia menyambut baik pengalokasian subsidi pangan, berupa pupuk dan benih, sebesar Rp32 triliun.

Siswono menegaskan pemerintah harus berupaya keras mempertahankan produksi beras di dalam negeri dengan memberikan dukungan penuh kepada petani.

Pemberian subsidi pupuk yang terus meningkat, katanya, memudahkan petani mendapatkan sarana produksi sehingga tidak mengganggu rencana penanaman kendati harga pupuk terus naik.

Menanggapi target stok beras 3 juta ton pada 2009, dia mengatakan hal itu menjadi tantangan Bulog untuk mengoptimalkan pembelian beras dari petani.

"Bulog tidak pernah bisa membeli lebih dari 1 juta ton. Padahal gudangnya ada di mana-mana. Harus ada mekanisme yang lebih baik dari Bulog sebagai lembaga pangan terbesar kita untuk mengamankan stok." (12)  (john. oktaveri@bisnis.co.id/aprika.hernanda@bisnis.co.id)

Oleh John Andhi Oktaveri & Aprika R.Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Mendag: Waspadai perlambatan perdagangan dunia tahun depan
  • Tim verifikasi ekspor kayu ke AS dibentuk
  • Harga bahan pokok merangkak naik
  • KUOTA
    Harga cabai di Makassar naik