Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 21/08/2008

'Bulog sempat kesulitan serap beras'

JAKARTA: Indonesia diharapkan kembali mencapai swasembada beras tahun ini, karena panen yang lebih baik dibandingkan dengan negara lain. Untuk lebih mengetahui langkah Bulog sebagai lembaga yang bertugas melakukan pengadaan beras dari petani dalam mendukung swasembada beras, Bisnis mewawancarai Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar, berikut petikannya:

Presiden mengatakan tahun ini akan swasembada beras, karena kondisi panen cukup baik, harga lebih murah, bagaimana pendapat Anda?

Kita mengharapkan swasembada beras tahun ini. Hal itu melihat tanda-tanda positif untuk mencapai swasembada beras seperti tercapainya target angka ramalan (aram) I oleh BPS dan diharapkan Aram II juga tercapai.

Target produksi gabah tahun ini 60 juta ton atau 36 juta ton setara beras, sedangkan konsumsi nasional sebesar 31,5 juta ton. Surplus diperkirakan sekitar 2,3 juta ton. Stok sampai akhir tahun di gudang Bulog diharapkan mencapai 1,5 juta ton, sehingga akan ada stok keseluruhan 3,8 juta ton.

Apabila kondisi ini dapat tercapai seperti cuaca yang mendukung yakni tidak terjadi kekeringan panjang, tidak terjadi banjir, atau serangan hama, maka swasembada beras tahun ini dipastikan akan tercapai.

Faktor cuaca seperti kekeringan dan banjir merupakan faktor yang tidak dapat diharapkan dan sulit diprediksikan. Kami tetap optimistis panen akan berjalan baik hingga akhir tahun ini.

Apa dasar optimisme swasembada beras itu?


Alasannya panen berjalan dengan baik, target penyerapan Bulog telah mencapai 2,375 juta ton. Panen masih akan terus berlanjut dari sekarang hingga Oktober 2008 dan harga relatif stabil.

Berapa konsumsi dan produksi beras nasional tahun ini?


Konsumsi beras secara nasional sebesar 31,5 juta ton, sedangkan produksi gabah ditargetkan 60 juta ton atau 33,9 juta ton setara beras. Produksi lebih besar daripada konsumsi, sehingga diharapkan akan terjadi surplus sebesar 2,3 juta ton pada tahun ini.

Apa langkah yang ditempuh Bulog untuk mencapai swasembada beras?


Bulog terus melakukan penyerapan gabah dan beras dari petani. Namun, harga pembelian pemerintah (HPP) berada jauh di bawah harga pasar, sehingga Bulog sempat  mengalami kesulitan dalam melakukan penyerapan.

Oleh karena itu, Bulog juga menempuh jalur komersial yakni dengan membeli beras dan gabah sesuai dengan harga pasar.

HPP diberlakukan terlambat yakni pada Februari 2008 dan baru dinaikkan pada Mei 2008 di mana panen telah berlangsung. Stabilnya harga beras mencerminkan seimbangnya antara pasokan dan permintaan.

Bulog juga memberikan beberapa insentif kepada mitra Bulog seperti pembagian karung-karung, plastik, terpal, dan berbagai alat pertanian kepada kelompok tani.

Bagaimana dengan kondisi tahun depan? Bisakah kita ekspor beras?


Ekspor akan dilakukan jika terjadi peningkatan produksi beras sebesar 5% dari 33,9 juta ton menjadi 35,5 juta ton, sehingga meningkat 1,6 juta ton. Cadangan beras di masyarakat sebesar 2,3 juta ton, sehingga total dengan stok di Bulog 1,5 juta ton menjadi 3,8 juta ton. Pengadaan Bulog 10% dari produksi beras nasional atau 3,5 juta ton.

Jadi, pertama, ada peningkatan produksi pada 2009 sebesar 5%, kedua, cadangan beras di masyarakat dan Bulog di atas 3 juta ton, ketiga, harga beras stabil. Jika ketiga syarat itu terpenuhi maka, dapat dilakukan ekspor beras.

Target produksi beras tahun ini sebesar 33,9 juta ton dipastikan tercapai, sedangkan pada 2009 ditargetkan produksi 40 juta ton.

Bagaimana soal HPP yang lebih rendah dari harga pasar?


HPP gabah kering giling (GKG) Rp2.200 per kg, sedangkan beras Rp4.300 per kg. Memang harga itu sudah jauh di bawah harga pasar, tetapi Bulog menempuh jalur komersial untuk menyiasati perbedaan harga tersebut, sehingga target Bulog dapat tercapai.

Kemungkinan HPP akan dinaikkan pada awal 2009. Kami mengusulkan HPP beras dinaikkan sebesar 8% menjadi Rp4.644 per kg dari sebelumnya Rp4.300 per kg dan diharapkan berlaku mulai 1 Januari 2009.

Apa antisipasi kebutuhan beras menjelang puasa?


Harga beras memasuki masa puasa dan Lebaran diperkirakan tetap stabil, karena permintaan juga tidak meningkat tajam mengingat konsumsi masyarakat di luar bulan puasa dan Lebaran juga cukup besar.

Jadi, tidak ada kebijakan khusus yang ditempuh Bulog dalam menghadapi puasa dan Lebaran, karena harga beras akan tetap stabil.

Pewawancara: Sepudin Zuhri
Kontributor Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Mendag: Waspadai perlambatan perdagangan dunia tahun depan
  • Tim verifikasi ekspor kayu ke AS dibentuk
  • Harga bahan pokok merangkak naik
  • KUOTA
    Harga cabai di Makassar naik