Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 08/09/2008

Defisit perdagangan masih mengancam

JAKARTA: Defisit perdagangan yang terjadi pada Juli akibat menurunnya ekspor nonmigas 2,4% dan migas 3,4% dibandingkan dengan bulan sebelumnya masih mengancam pada Agustus hingga akhir 2008.

Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro mengatakan defisit perdagangan masih dapat berlanjut, karena harga atau nilai tetap dan volume turun atau harga mengalami kenaikan, tetapi volume ekspor turun.

"Sekarang volume ekspor turun, meskipun beberapa harga komoditas ekspor naik. Nilai dan volume impor naik signifikan. Itu [defisit perdagangan] kemungkinan dapat berlanjut hingga akhir tahun," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, pekan lalu.

Dia menambahkan impor barang-barang konsumsi, bahan baku penolong dan modal naik signifikan, sehingga untuk mendapatkan surplus harus diimbangi dengan peningkatan nilai atau pun volume ekspor.

Peningkatan ekspor, katanya, dapat dilakukan dengan memperbaiki kondisi di dalam negeri seperti infrastruktur, sistem perpajakan dan mengurangi faktor penyebab ekonomi biaya tinggi. 

Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan mengatakan kecenderungan surplus perdagangan semakin kecil, sehingga akan berpengaruh terhadap surplus perdagangan pada akhir tahun yang semakin menipis.

"Tren surplusnya [neraca perdagangan] semakin kecil. Dalam jangka panjang neraca perdagangan akan defisit," ujarnya belum lama ini.

Ekspor nonmigas pada Juli 2008 turun 2,38% menjadi US$9,68 miliar dari bulan sebelumnya US$9,9 miliar. Ekspor migas turun 3,35% yaitu dari US$2.980,3 juta menjadi US$2.874,4 juta.

Menurut dia, semakin menipisnya neraca perdagangan itu disebabkan kenaikan impor yang luar biasa pada bahan baku penolong dan modal.

Data BPS menunjukkan neraca perdagangan Indonesia untuk Juli mengalami defisit perdagangan yang disebabkan impor jauh lebih besar daripada nilai ekspor.

Nilai ekspor US$12,55 miliar, sedangkan impor sebesar US$12,82 miliar, sehingga ada defisit sebesar US$277 juta. Namun, neraca perdagangan Januari-Juli 2008 masih surplus sebesar US$5,15 miliar.

Dia memprediksikan industri di dalam negeri dalam tiga bulan ke depan akan tetap bergairah yakni melakukan impor sebagai penunjang barang ekspor, sehingga impor bahan baku akan berkorelasi positif dengan peningkatan ekspor. (19)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Mendag: Waspadai perlambatan perdagangan dunia tahun depan
  • Tim verifikasi ekspor kayu ke AS dibentuk
  • Harga bahan pokok merangkak naik
  • KUOTA
    Harga cabai di Makassar naik