Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Selasa, 07/10/2008

Ekspor nonmigas turun 1,2%

JAKARTA: Nilai ekspor komoditas nonmigas pada Agustus 2008 turun 1,2% dari bulan sebelumnya menjadi US$9,56 miliar, akibat tekanan harga di pasar global. Akibat, minyak sawit mentah dan lemak nabati lain justru tumbuh signifikan.

Penurunan ekspor nonmigas terjadi pada produk bijih, kerak dan abu logam sebesar 19,9% menjadi US$409,2 juta. Adapun ekspor minyak sawit mentah bertumbuh 44,4% menjadi US$881,6 juta, kendati harga komoditas itu turun menjadi US$800 per ton.

"Ekspor Agustus turun, karena kondisi harga komoditas selama bulan itu turun," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS) Ali Rosidi, kemarin.

Produk lain yang mengalami penurunan nilai ekspor adalah pakaian jadi bukan rajutan, karet dan barang dari karet, kayu, nikel, dan tembaga, bijih, kerak dan abu logam, kertas dan karton.

Sebaliknya, minyak sawit dan lemak nabati lainnya justru mengalami lonjakan pengiriman sehingga nilai ekspornya bertumbuh. Komponen minyak sawit mentah mencapai 85%.

Ekspor sawit pada Agustus sebesar US$881,6 juta dengan kenaikan volume pengiriman 89,37%.

Ali Rosidi mengatakan pasar utama produk komoditas dari Indonesia adalah Amerika Serikat (AS), Jepang, Singapura dan China.

Terkait dengan krisis keuangan yang tengah melanda Negeri Paman Sam itu, Ali mengatakan masalah ekspor hanya akan dihadapi oleh komoditas yang dikirim langsung ke pasar itu, seperti tekstil dan sepatu.

Namun, menurutnya, pemerintah tidak akan mengalihkan ekspor tujuan AS meski ada krisis keuangan di negara itu, mengingat kontrak pengiriman barang sudah dilakukan sebelumnya.

Sebaliknya, pemerintah justru perlu melakukan penetrasi ke negara tersebut serta ke pasar nontradisional, seperti Afrika dan Timur Tengah.

Bertumbuh


Ali optimistis nilai ekspor hingga akhir tahun ini masih bertumbuh dengan baik mengingat kontrak ekspor telah dilakukan sebelumnya.

Apalagi, pengusaha dan eksportir masih menerima pesanan dari permintaan luar negeri, hanya saja terjadi penyesuaian harga yakni menjadi turun.

Total nilai ekspor Januari-Agustus 2008 sebesar US$95,5 miliar, sedangkan impor sebesar US$89,8 miliar, sehingga neraca perdagangan masih surplus sebesar US$5,7 miliar.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pertumbuhan ekspor 2008 masih relatif baik karena hanya terkena dampak ikutan dari krisis sektor keuangan di AS.

Ekspor Indonesia, katanya, baru akan terkena dampak krisis itu pada 2009.

Krisis keuangan yang melanda AS secara tidak langsung akan memengaruhi kinerja ekspor Indonesia, karena hanya akan terkena dampak ikutan dari kinerja ekspor negara-negara Asia seperti China, India, Jepang ke Negeri Paman Sam itu.

Langkah untuk mengamankan neraca perdagangan agar tidak defisit dengan menekan impor dan meningkatkan ekspor. (12/19) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Mendag: Waspadai perlambatan perdagangan dunia tahun depan
  • Tim verifikasi ekspor kayu ke AS dibentuk
  • Harga bahan pokok merangkak naik
  • KUOTA
    Harga cabai di Makassar naik