Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 08/10/2008

Target ekspor 2008 direvisi

JAKARTA: Departemen Perdagangan realistis akan terjadi revisi penurunan target ekspor nonmigas untuk tahun ini dan 2009 seiring perlambatan ekonomi global akibat krisis keuangan di Amerika Serikat.

"Dengan situasi saat ini, tentunya kita harus realistis bahwa ada revisi penurunan ekspor tahun ini dan juga tahun depan," ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu kemarin, tanpa menyebutkan besaran revisi itu.

Dia menjelaskan terget ekspor nonmigas sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Meskipun angka ekspor masih dibahas, jelasnya, jika terjadi resesi pertumbuhan ekonomi, otomatis target ekspor harus direvisi.

Mari mengatakan revisi penurunan target ekspor tersebut tidak besar karena hingga saat ini komoditas nonmigas masih cukup baik meskipun perekonomian dunia terus melambat. Yang jelas, imbuhnya, untuk tiga bulan ke depan dampak dari krisis keuangan AS akan sangat terasa bagi Indonesia.

Menurut dia, Depdag akan tetap melakukan beberapa langkah intensif untuk mengamankan kinerja perdagangan Indonesia, baik dari sisi ekspor maupun impor. Langkah yang lebih konkret, imbuhnya, untuk peningkatan barang impor akan lebih ditekan lagi sehingga mengurangi pengeluaran biaya ekonomi tinggi serta restitusi pajak dan bea masuk akan disesuaikan kembali sehingga tidak mengganggu cash flow.

Mari mengatakan Depdag akan melakukan beberapa langkah untuk menghadapi krisis keuangan global, a.l, Depdag akan tetap memfasilitasi perdagangan dengan cara memperlancar arus barang karena dunia usaha menginginkan pemerintah membantu di bidang logistik. Dunia usaha, imbuhnya, mengharapkan arus barang agar lebih diperlancar, dipermudah, dan dipersingkat prosesnya.

Menurut dia, kelancaran arus barang berkaitan dengan aspek infrastruktur pelabuhan, nasional single window (NSW) dalam sistem pelayanan ekspor-impor yang selama ini juga telah dilaksanakan oleh Depdag.

Pemerintah juga gencar melakukan promosi dagang dan diversifikasi pasar dan produk ekspor sehingga lebih mudah menembus pasar. (12)

 negara lain. Dia mencontohkan untuk Trade Expo Indonesia (TEI) 2008 yang akan dilaksanakan akhir Oktober akan mendongkrak nilai ekspor nonmigas.

Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Gusmardi Bustami mengatakan dampak resesi keuangan di AS memengaruhi kondisi perekonomian global termasuk penurunan ekspor Indonesia.

"Apa yang terjadi di AS sudah terlihat pengaruhnya dengan diversifikasi pasar ekspor Indonesia," ujarnya.

Dia menjelaskan penurunan ekspor ke AS sudah terlihat tahun ini dari biasanya yang mencapai 14 % menjadi 11 % saat ini. Untuk ke depannya, Indonesia juga harus melakukan ekspansi pasar ke negara lain selain AS untuk lebih menstabilkan perekonomian dan perdagangan dalam negeri.

Menurut Gusmardi, ketergantungan pasar pada satu negara atau beberapa negara tidak baik dan dapat mengancam kondisi perekonomian negara bersangkutan. Untuk itu Indonesia harus melakukan diversifikasi pasar sehingga bisa melindungi perekonomian meskipun terjadi resesi keuangan global.

Dia mengatakan untuk menggantikan AS ada pasar Asean, India, dan Tiongkok yang hingga saat ini masih tumbuh bagus namun belum digarap secara maksimal. "Timur Tengah, Eropa Timur juga pasar yang perlu ditinjau lebih jauh dan hubungan bilateral dengan negara-negara tersebut perlu ditingkatkan," ujarnya.

Dengan AS, imbuhnya, Indonesia tidak memiliki kesepakatan perdagangan khusus sehingga resesi keuangan yang terjadi di sana tidak berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Dia mengatakan Indonesia akan merasakan second effect dari resesi tersebut karena penetrasi ekspor ke pasar AS cukup tinggi.
(12)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Mendag: Waspadai perlambatan perdagangan dunia tahun depan
  • Tim verifikasi ekspor kayu ke AS dibentuk
  • Harga bahan pokok merangkak naik
  • KUOTA
    Harga cabai di Makassar naik