Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 10/10/2008

Ekspor mebel rotan sempat terhenti

CIREBON: Krisis ekonomi di Amerika Serikat berpengaruh negatif terhadap kinerja ekspor mebel rotan. Permintaan negara itu atas komoditas produksi Cirebon, Jawa Barat, itu kini terhenti.

Pemilik pabrik rotan Jaka Rotan yang berlokasi di Tegalwangi Kabupaten Cirebon, Sobur Koswara mengatakan selama ini ekspor rotan ke Amerika Serikat sebagian besar dalam bentuk kursi, lemari, dan interior rumah.

"Sejak bisnis properti di Amerika Serikat  jatuh maka ekspor rotan terhenti," katanya, kemarin.

Sobur mengatakan sejak Maret 2008 tidak ada lagi pengiriman produk rotan ke Amerika karena permintaan juga terhenti. Baru setelah memasuki September ada lagi permintaan pengiriman dari buyer Amerika. Artinya, sudah selama enam bulan ini order dari Amerika terhenti sama sekali.

Dia menambahkan krisis di AS sebenarnya sudah terjadi sekitar satu tahun, tetapi dampaknya baru dirasakan di Indonesia beberapa bulan lalu. Dia tetap optimistis ekspor rotan ke Amerika akan kembali membaik meski tidak sebagus tahun lalu.

"Saya yakin akan membaik, sebab sampai Maret 2009 saya sudah teken kontrak baru dengan buyer," ujarnya.

Sebelum krisis melanda Amerika, Sobur setiap bulannya bisa mengirim sekitar 25.000 unit mebel, tetapi kini hanya 3.000 unit furnitur berbagai jenis.

Pengusaha rotan lainnya Suhermanto, pemilik HSHD Furnicraft yang berlokasi di Tegalwangi Kabupaten Cirebon, mengatakan kondisi ekspor rotan ke AS memasuki masa sulit.

Krisis di Amerika khususnya kredit macet bisnis properti membuat permintaan mebel terhenti. "Daya beli di Amerika juga turun drastis dan semakin menutup peluang ekspor ke negara itu," katanya.

Dia memiliki dua buyer dari Amerika yang sudah mulai menghentikan permintaan rotan Cirebon. Jika dihitung sejak krisis di AS tersebut, omzetnya turun hingga 10%.

Sulit bayar


Masalah lainnya adala buyer Amerika kini semakin sulit melunasi pembayaran sehingga jika ada permintaan lagi, para eksportir kini mengasuransikan kirimannya sebagai langkah antisipasi gagal bayar.

"Total market ekspor produk rotan dari Cirebon diperkirakan mencapai 30%-35%. Ini menjadi masalah baru apalagi bagi pengusaha yang volume ekspor ke Amerika cukup besar. Atau mulai melirik pasar baru negara Timur Tengah," katanya.

Pengusaha rotan lainnya Agus Yamin mengatakan gejolak yang melanda Amerika otomatis menimpa pula negara-negara Uni Eropa, sehingga ekspor ke kawasan itu, seperti Prancis dan Jerman ikut terpengaruh.

"Saya akui order terasa merosot tetapi saya tetap tidak khawatir dengan penjualan rotan ke luar negeri," ujarnya.

Sebelumnya, Eddy Widjanarko, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) optimistis pertumbuhan ekspor sepatu ke AS tahun ini akan tumbuh 10% meskipun terjadi perlambatan ekonomi di negeri itu.

Menurut Eddy, merek sepatu Adidas dan Reebok tetap dipertahankan permintaannya.

Dia menjelaskan dampak krisis keuangan di AS baru terasa dampaknya bagi Indonesia empat bulan ke depan, sehingga kemungkinan baru terasa pada awal 2009 dan belum berdampak terhadap kinerja ekspor sepatu untuk tahun ini. (k41)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Mendag: Waspadai perlambatan perdagangan dunia tahun depan
  • Tim verifikasi ekspor kayu ke AS dibentuk
  • Harga bahan pokok merangkak naik
  • KUOTA
    Harga cabai di Makassar naik